Drama Babak Gugur Piala Dunia 2026: Mitos Jerman Runtuh, Brasil Membungkam Kesombongan
Namun sepak bola selalu menyukai ironi. Jepang justru tampil luar biasa pada babak pertama. Mereka bermain cepat, disiplin, dan berani. Kaishu Sano membawa Samurai Biru unggul lebih dahulu. Selama 45 menit pertama, Brasil tampak kehilangan ritme. Serangan mereka mudah dipatahkan. Untuk sesaat, ucapan Shiogai terlihat seolah akan terbukti.
Tetapi tim besar memiliki satu kemampuan yang membedakannya dari tim lain: bangkit ketika berada di bawah tekanan. Carlo Ancelotti membaca situasi dengan tenang. Ia mengubah pendekatan permainan pada babak kedua. Intensitas serangan ditingkatkan. Tempo dinaikkan. Brasil mulai memainkan sepak bola yang selama puluhan tahun menjadi identitas mereka.
Casemiro menjadi pemantik kebangkitan lewat sundulan yang mengubah skor menjadi imbang. Setelah itu, Jepang semakin tertekan. Waktu terus berjalan, tetapi Brasil tidak berhenti menyerang.
Ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, Gabriel Martinelli muncul sebagai penyelamat. Golnya pada masa tambahan waktu membuat ribuan pendukung Brasil di stadion meledak dalam kegembiraan. Skor 2-1 memastikan Selecao melangkah ke babak 16 besar.
Namun peluit panjang ternyata bukan akhir cerita. Media sosial berubah menjadi arena baru pertandingan. Akun Instagram Shiogai dibanjiri komentar dari pendukung Brasil. Sebagian hanya mengunggah skor akhir pertandingan. Sebagian lain cukup menuliskan angka 5, simbol jumlah gelar Piala Dunia yang dimiliki Brasil.
Beberapa jam kemudian, kontroversi bertambah besar ketika penyerang Brasil, Matheus Cunha, menghampiri Shiogai seusai pertandingan.
Sambil mengangkat lima jarinya, Cunha berteriak lantang, "Lima Piala Dunia... Anda masih kecil!"
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu