Drama Babak Gugur Piala Dunia 2026: Mitos Jerman Runtuh, Brasil Membungkam Kesombongan
Harapan Jerman sempat menyala ketika Jonathan Tah menjebol gawang Paraguay pada extra time. Para pemain berpelukan. Bangku cadangan bersorak. Seolah-olah tiket menuju babak berikutnya sudah berada di tangan. Namun teknologi VAR berkata lain. Setelah peninjauan yang menegangkan, gol tersebut dianulir. Sejak detik itu, arah pertandingan berubah.
Adu penalti yang selama ini menjadi wilayah paling nyaman bagi Jerman justru menjelma mimpi buruk. Satu demi satu algojo gagal menjalankan tugasnya. Paraguay tetap tenang. Ketika bola terakhir melambung dari kaki pemain Jerman, sejarah baru resmi ditulis. Untuk pertama kalinya di Piala Dunia, Jerman kalah dalam adu penalti.
Kemenangan itu bukan sekadar membawa Paraguay melangkah ke babak berikutnya. Lebih dari itu, mereka menjadi tim yang mengakhiri salah satu mitos paling sakral dalam sejarah sepak bola dunia. Tidak ada lagi cerita bahwa Jerman selalu menang dari titik putih. Paraguay telah menghapusnya.
Namun ketika dunia masih membicarakan runtuhnya mitos tersebut, drama lain sedang berlangsung ribuan kilometer jauhnya di NRG Stadium, Houston.
Pertandingan Brasil melawan Jepang sejatinya sudah memanas bahkan sebelum bola pertama bergulir. Penyebabnya bukan tekel keras ataupun provokasi antarpemain, melainkan satu pernyataan yang keluar dari mulut penyerang muda Jepang, Kento Shiogai.
"Brasil dulu kuat. Namun, sekarang saya punya kesan bahwa Prancis dan Argentina yang kuat. Soal Brasil, akhir-akhir ini saya tidak banyak dengar. Neymar? Ia bukan lagi seperti dulu," kata Shiogai sebelum pertandingan.
Kalimat itu menyebar cepat ke seluruh dunia. Di Brasil, ucapan tersebut dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap negara yang hingga kini masih menjadi pemilik lima trofi Piala Dunia, jumlah terbanyak dibanding negara mana pun.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu