Kenalan di Media Sosial Berujung Maut, Tragedi Siti Munawaroh Jadi Alarm Bahaya Dunia Digital
PROBOLINGGO, iNewsSumba.id – Tragedi yang merenggut nyawa Siti Munawaroh (26), warga Desa Bantaran, Kabupaten Probolinggo, tak sekadar menjadi catatan kriminal yang menggemparkan publik. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan keras mengenai risiko berkenalan dengan orang asing melalui media sosial tanpa mengenal identitas mereka secara utuh.
Perempuan muda itu mengakhiri hidupnya secara tragis setelah memenuhi ajakan seorang pria yang baru dikenalnya melalui jejaring sosial. Bukannya diperkenalkan kepada keluarga seperti yang dijanjikan, korban justru menjadi sasaran aksi keji yang telah direncanakan oleh dua pelaku.
Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif mengatakan, peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak mudah mempercayai orang yang baru dikenal di ruang digital.
"Kasus ini menjadi pengingat bahwa masyarakat harus lebih berhati-hati ketika berinteraksi melalui media sosial. Jangan mudah percaya dengan orang yang belum benar-benar dikenal," ujar AKBP M. Wahyudin Latif.
Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, pelaku Rofik berkenalan dengan korban melalui media sosial. Setelah merasa mendapat kepercayaan dari korban, ia mengajak bertemu dengan alasan akan memperkenalkan korban kepada kedua orang tuanya. Padahal, seluruh skenario tersebut hanyalah tipu daya untuk memuluskan aksi kejahatan.
Di tengah perjalanan menuju lokasi yang sepi, korban diadang dan dijerat menggunakan tali yang sebelumnya telah dipersiapkan bersama rekannya, Humaidi. Setelah korban meninggal dunia, kedua pelaku bahkan melakukan tindakan yang lebih biadab sebelum membuang jasad korban ke dalam sumur di Desa Alas Kandang guna menghilangkan jejak.
Polisi juga mengungkap bahwa motif utama kejahatan tersebut adalah ekonomi. Kedua pelaku ingin menguasai sepeda motor milik korban. Demi menghilangkan barang bukti, pakaian korban dibakar sebelum pelaku membawa kabur kendaraan tersebut.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana ruang digital yang seharusnya menjadi sarana komunikasi justru dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk membangun kepercayaan semu. Modus perkenalan melalui media sosial kini menjadi salah satu pola yang kerap digunakan pelaku untuk mencari korban.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu