get app
inews
Aa Text
Read Next : Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Pulau Sumba, Getaran Terasa hingga Kambaniru Sumba Timur

Gempa Sumba M5,3 Dipicu Aktivitas Subduksi, BMKG: Guncangan Terasa hingga Labuan Bajo

Minggu, 12 Juli 2026 | 21:32 WIB
header img
Warga diminta percayakan informasi tentang gempa pada media terpercaya dan juga BMKG (Foto: Ilustrasi AI)

WAIKABUBAK, iNewsSumba.id – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo (M) 5,3 yang mengguncang Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (12/7/2026) malam, dipastikan berasal dari aktivitas subduksi lempeng di selatan Pulau Sumba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

Gempa terjadi pada pukul 20.20.25 WIB atau 21.20 WITA. Berdasarkan hasil analisis terbaru BMKG, pusat gempa berada di koordinat 9,79 derajat Lintang Selatan dan 119,39 derajat Bujur Timur, sekitar dua kilometer di tenggara Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat, pada kedalaman 36 kilometer.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, menjelaskan karakteristik gempa menunjukkan adanya aktivitas tektonik di zona penunjaman lempeng yang memang aktif di wilayah Nusa Tenggara. Menurutnya, posisi episenter dan kedalaman hiposenter menjadi indikator kuat bahwa gempa dipicu proses subduksi.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust)," jelas Dr. Wijayanto dalam keterangan resminya.

Aktivitas subduksi merupakan proses ketika satu lempeng bumi bergerak menyusup ke bawah lempeng lainnya. Di kawasan selatan Nusa Tenggara, proses geologi tersebut menjadi salah satu sumber utama gempa bumi tektonik yang kerap terjadi, mulai dari skala kecil hingga menengah.

Meski berasal dari zona subduksi, BMKG memastikan gempa kali ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hasil pemodelan yang dilakukan sesaat setelah gempa terjadi menunjukkan tidak ada deformasi dasar laut yang dapat memicu gelombang tsunami.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut