BMKG Bunyikan Alarm El Nino, NTT Masuk Daftar Wilayah Paling Rawan Kekeringan hingga 2027
JAKARTA, iNewsSumba.id – Ancaman musim kering yang lebih panjang mulai membayangi sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang mulai berkembang sejak April–Mei 2026 diperkirakan akan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Dampaknya bukan hanya berkurangnya curah hujan, tetapi juga meningkatnya risiko kekeringan, terutama di kawasan Nusa Tenggara yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan cadangan air terbatas.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Menurutnya, sejumlah daerah telah masuk dalam kategori wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan karena diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal pada periode Juli hingga Oktober 2026.
"El Nino ini fenomenanya terjadi kurang lebih selama 9 sampai 12 bulan, bisa lebih panjang, bisa lebih pendek tergantung berbagai kondisi. Diperkirakan El Nino yang dimulai sekitar April atau Mei akan berakhir pada Mei tahun depan," ujar Faisal.
Wilayah yang diperkirakan menerima dampak paling besar meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi hingga Papua bagian selatan. Di antara kawasan tersebut, Nusa Tenggara dinilai menjadi salah satu daerah yang paling rentan karena secara klimatologis memang memiliki musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), peringatan ini menjadi sinyal penting. Kekeringan yang berkepanjangan bukan hanya mengancam ketersediaan air bersih, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas pertanian, peternakan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat yang masih sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa El Nino tidak identik dengan musim kemarau. Faisal menjelaskan, musim kemarau merupakan siklus tahunan yang selalu terjadi, sedangkan El Nino adalah fenomena iklim global yang muncul secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," katanya.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu