JAKARTA, iNewsSumba.id – Di balik layar ponsel pintar, anak-anak Indonesia menghadapi ancaman yang tak kasatmata. Manipulasi usia saat membuat akun media sosial membuka akses luas ke konten yang sejatinya dilarang bagi mereka.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan, banyak anak secara sadar mengubah tanggal lahir demi bisa masuk ke platform yang dibatasi usia. Ironisnya, sistem digital nyaris tidak melakukan verifikasi.
Wamen Komdigi Nezar Patria menilai praktik ini membuat anak berada dalam posisi paling rentan. Sekali sistem percaya usia palsu, seluruh mekanisme perlindungan otomatis hilang.
“Mesin algoritma tidak punya empati. Ia hanya membaca data dan perilaku,” kata Nezar.
Akibatnya, konten dewasa, seksual, hingga kekerasan, muncul tanpa filter. Anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga target algoritma yang terus menyajikan konten serupa.
Nezar menyebut, ketergantungan platform pada deklarasi usia adalah kesalahan desain yang sudah lama dibiarkan. Padahal, risiko psikologis terhadap anak sangat besar.
Komdigi kini mendorong penggunaan teknologi pendeteksian usia berbasis perilaku. Sistem ini membaca kebiasaan interaksi, jenis konten yang dikonsumsi, hingga pola waktu penggunaan.
“Kalau perilakunya anak-anak, sistem harus menganggapnya anak-anak, meski datanya bilang dewasa,” ujar Nezar.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
