Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Malam Nanti Piche Kota Kembali Getarkan Panggung Spekta Indonesian Idol XIII, Ayo Vote Dukungan
Advertisement . Scroll to see content

Dari Kekeringan hingga Angin Kencang, NTT Hadapi Dua Ancaman Cuaca di Tengah Kemarau

Jum'at, 11 September 2026 | 08:56 WIB
  • author Binti Mufarida
Dari Kekeringan hingga Angin Kencang, NTT Hadapi Dua Ancaman Cuaca di Tengah Kemarau
Ilustrasi AI NTT akan menghadapi dua sisi ancaman cuaca pada September 2026

JAKARTA, iNewsSumba.id - Nusa Tenggara Timur menghadapi dua sisi ancaman cuaca pada September 2026. Di satu sisi, kondisi kering dan minimnya curah hujan masih mendominasi. Di sisi lain, BMKG memperingatkan potensi angin kencang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 81,1 persen wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim masih berada dalam periode musim kemarau hingga awal September 2026.

Sebagian besar wilayah Bali-Nusa Tenggara juga diprakirakan mengalami curah hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian.

Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap sektor pertanian, peternakan dan ketersediaan air di sejumlah wilayah NTT.

Namun, kemarau bukan berarti masyarakat bisa mengabaikan potensi cuaca ekstrem.

Pada periode 11–13 September 2026, BMKG memasukkan NTT ke dalam wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang.

Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia Timur, termasuk Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya dan Papua Selatan.

Perubahan cuaca tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna jasa transportasi laut di wilayah kepulauan.

BMKG juga mengingatkan bahwa potensi hujan dengan berbagai intensitas masih dapat terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer.

“Dengan demikian, meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, potensi hujan sedang-lebat/sangat lebat secara lokal tetap perlu diwaspadai,” ungkap BMKG.

Bagi NTT, kombinasi kekeringan, angin kencang dan kemungkinan perubahan cuaca secara lokal menjadi tantangan yang harus direspons secara bersamaan.

Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan air bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang dipicu kondisi cuaca.

“Masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api,” imbau BMKG.

Dengan musim kemarau yang belum berakhir, masyarakat NTT dan kawasan timur Indonesia diminta tidak hanya bersiap menghadapi panas dan kekeringan, tetapi juga tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

 

Editor: Dionisius Umbu Ana Lodu

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut