Lahan Luas tapi Jagung Belum Maksimal, Potensi Besar yang Masih Tertidur di Sumba Timur
Di sisi lain, seorang petani muda di Kecamatan Kanatang, Marten Hina Tarapanjang, justru melihat pertanian jagung sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.
Selama tiga tahun terakhir, Marten menekuni budidaya jagung di lahan hampir satu hektare miliknya. Ia mengaku hasil dari jagung cukup membantu ekonomi keluarganya.
“Lahan saya hampir satu hektare. Hasilnya lumayan bisa bantu ekonomi keluarga dan menabung dan buka usaha lain seperti ternak ayam dan bebek,” ujar sarjana teknik informatika itu.
Ia menjual jagung bulir dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram dan jagung giling sekitar Rp8.000 per kilogram kepada pembeli di sekitar desa maupun luar desa.
Menurut Marten, masih banyak lahan di Sumba Timur yang belum dimanfaatkan secara maksimal dan bisa dijadikan lahan pertanian produktif.
“Saya melihat jagung ini sebenarnya punya potensi bagus tapi butuh perhatian serius dari pemerintah sampai ke tingkat desa,” katanya.
Baik pemerintah maupun petani sama-sama melihat jagung sebagai komoditas yang memiliki masa depan di Sumba Timur. Namun tanpa pengelolaan lahan yang serius dan dukungan kebijakan pertanian yang kuat, potensi besar tersebut bisa tetap menjadi potensi yang belum tergarap.
Pengembangan jagung dinilai tidak hanya meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja baru dan mengurangi angka kemiskinan di daerah.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu