get app
inews
Aa Text
Read Next : PON 2028 Tetap di NTT-NTB, Pemerintah Tegas: Tak Ada Venue Baru Dibangun

Tiap Hari Warga Desa Dikira Bertaruh Nyawa di Jembatan Bambu, Brimob Hadir Bawa Harapan

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:12 WIB
header img
Warga Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi NTT, setipa hari bertaruh nyawa lalui jembatan bambu darurat untuk kemuddahan aktivitas harian-Foto: Tim iNews

TAMBOLAKA, iNewsSumba.id-Akses infrastruktur di pedalaman Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur masih menjadi persoalan klasik yang belum sepenuhnya terjawab. Di Desa Dikira, sebuah jembatan bambu sepanjang kurang lebih 50 meter menjadi satu-satunya penghubung antarwilayah.

Setiap hari, warga harus bertaruh nyawa saat melintasi jembatan tersebut. Dengan ketinggian hampir 20 meter dari permukaan sungai, langkah kaki harus dihitung dengan cermat.

Di bawah jembatan, arus sungai mengalir deras. Saat hujan turun di wilayah hulu, debit air meningkat drastis dan kerap meluap tanpa peringatan.

Kondisi bambu yang mulai rapuh dan licin membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Beberapa warga mengaku pernah nyaris terjatuh saat menyeberang.

Meski demikian, jembatan itu tetap menjadi akses utama menuju kebun, pasar, sekolah, hingga sumber air bersih. Tidak ada jalur alternatif lain yang bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.

Kepala Desa Dikira, Yulius Anggo Ate, menyebut kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun. Warga, katanya, hanya bisa berharap ada perhatian serius dari pemerintah.

Menurutnya, jembatan darurat yang ada saat ini tidak dirancang untuk beban berat. Namun kebutuhan hidup memaksa warga tetap melintasinya setiap hari.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata ketimpangan pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman Sumba. Di saat daerah lain berbicara konektivitas digital, warga Dikira masih berjuang soal akses dasar.

Kehadiran aparat dari Batalyon Pelopor C Korps Brimob Polda NTT yang membantu pembangunan jembatan darurat memberi harapan baru. Namun solusi permanen tetap dinantikan.

Komandan Batalyon Pelopor C, Kompol Denis Y N Leihitu, menyebut ini merupakan misi kemanusiaan kedua setelah sebelumnya membangun jembatan di desa lain.

Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat segera membangun jembatan permanen yang lebih kokoh dan aman.

Sebab bagi mereka, jembatan bukan sekadar akses fisik, melainkan urat nadi kehidupan yang menentukan keberlangsungan ekonomi dan pendidikan generasi mendatang.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut