JAKARTA, iNewsSumba.id– Ancaman fenomena El Niño menjadi perhatian serius bagi stabilitas pasokan dan harga pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah yang selama ini menghadapi tantangan iklim kering tersebut berpotensi mengalami tekanan tambahan apabila El Niño berlangsung lama dan mengganggu produksi maupun distribusi bahan pangan.
Bank Indonesia (BI) memperingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi memicu gangguan pasokan sejumlah komoditas pangan strategis. Beras menjadi komoditas yang paling rentan terdampak, disusul cabai dan bawang merah.
Peringatan tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI periode Oktober 2026 di Gedung Thamrin, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
“Komoditas yang paling rentan adalah beras, kemudian cabai dan bawang merah,” ucap Ricky.
Bagi NTT, risiko ini perlu mendapat perhatian karena gangguan produksi di daerah pemasok dapat berimbas pada ketersediaan dan harga pangan di pasar lokal. Apabila pasokan berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, tekanan harga berpotensi semakin terasa di tingkat konsumen.
Dampak El Niño tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. Gangguan terhadap pertumbuhan tanaman, kebutuhan air untuk pertanian, serta kelancaran distribusi dapat menjadi rangkaian persoalan yang memengaruhi ketersediaan bahan pangan.
BI menyebut wilayah yang berpotensi menghadapi tekanan pasokan akibat El Niño mencakup Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sumatra. Cakupan tersebut menempatkan NTT dalam wilayah yang perlu mengantisipasi kemungkinan gangguan rantai pasok pangan.
Risiko itu muncul ketika tekanan harga pangan nasional juga menunjukkan peningkatan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada Agustus 2026.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
