Tim medis menjelaskan lintasan peluru masuk melalui pipi kiri dan keluar di sekitar telinga kanan. Jalur proyektil tersebut menyebabkan kerusakan parah pada struktur tulang wajah hingga dasar tengkorak korban.
Pemeriksaan radiologi atau foto rontgen turut memperkuat dugaan tersebut. Meski tidak dilakukan autopsi menyeluruh, hasil pencitraan menunjukkan adanya patah tulang pada dasar tengkorak yang menjadi penyebab utama kematian korban.
"Pemeriksaan radiologi menunjukkan adanya patah tulang pada dasar tengkorak. Pemeriksaan ini dilakukan karena kami tidak melaksanakan autopsi dalam, melainkan hanya pemeriksaan luar yang didukung foto rontgen," jelas Rommy.
Menurutnya, kerusakan berat pada dasar tengkorak akibat lintasan peluru menyebabkan korban meninggal dalam waktu sangat singkat sesaat setelah ditembak.
"Dari hasil tersebut diketahui lintasan peluru masuk dan keluar serta menyebabkan kerusakan berat pada dasar tengkorak. Cedera inilah yang menyebabkan korban meninggal dunia dengan sangat cepat atau sudden death," tegasnya.
Sementara itu, Satgas Penegakan Hukum Operasi Damai Cartenz terus mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap pelaku penyerangan. Polisi menyebut pesawat PT Associated Mission Aviation dibakar oleh kelompok KKB jaringan baru yang dikenal sebagai Kelompok Bakusip.
Kasatgas Gakkum Operasi Damai Cartenz, Komisaris Besar Polisi I G G Era Adinata, mengatakan kelompok tersebut dipimpin oleh M. Mbalingga. Aparat juga masih mendalami kemungkinan adanya hubungan antara Kelompok Bakusip dengan kelompok bersenjata yang dipimpin Elkius Kobak.
Kasus penyerangan terhadap pesawat sipil ini menjadi perhatian serius aparat keamanan karena menyangkut keselamatan penerbangan di Papua. Hasil investigasi forensik diharapkan menjadi bukti penting dalam proses penegakan hukum terhadap para pelaku penembakan dan pembakaran pesawat tersebut.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
