Lahan Luas tapi Jagung Belum Maksimal, Potensi Besar yang Masih Tertidur di Sumba Timur

Dion. Umbu Ana Lodu
Marten Hina Tarapanjang, pemuda bergelar sarjana teknik informatika di Desa Kuta, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT ini, sudah tiga tahun terakhir menanam jagung di kebunnya secara masif(Foto: Dion. Umbu Ana Lodu).

WAINGAPU, iNewsSumba.id-Kabupaten Sumba Timur dikenal sebagai wilayah terluas di Provinsi NTT, namun potensi pertanian jagung di daerah ini ternyata belum dimanfaatkan secara maksimal. Di tengah luas wilayah yang mencapai ribuan kilometer persegi, masih banyak lahan yang belum diolah menjadi lahan produktif.

Data Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur mencatat sekitar 15.876 hektare lahan potensial jagung yang baru teridentifikasi. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 8.000 hektare yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ditanami jagung.

Kepala Dinas Pertanian Sumba Timur, Nicolas Pandarangga mengatakan, potensi jagung di daerah ini sebenarnya masih sangat besar untuk dikembangkan.

“Kalau melihat luas lahan potensial yang ada untuk ditanami jagung itu belum sampai lima puluh persen lah ditanami jagung,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (25/3/2026) siang lalu di ruang kerjanya.

Menurutnya, pengembangan jagung masih terkendala keterbatasan anggaran daerah serta rendahnya minat masyarakat, khususnya generasi muda yang lebih memilih bekerja di sektor formal dibandingkan bertani.

Padahal, produktivitas jagung di Sumba Timur saat ini rata-rata mencapai 4 ton per hektare dan masih bisa ditingkatkan jika didukung teknologi pertanian dan pendampingan petani.

Di sisi lain, seorang petani muda di Kecamatan Kanatang, Marten Hina Tarapanjang, justru melihat pertanian jagung sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.

Selama tiga tahun terakhir, Marten menekuni budidaya jagung di lahan hampir satu hektare miliknya. Ia mengaku hasil dari jagung cukup membantu ekonomi keluarganya.

“Lahan saya hampir satu hektare. Hasilnya lumayan bisa bantu ekonomi keluarga dan menabung dan buka usaha lain seperti ternak ayam dan  bebek,” ujar sarjana teknik informatika itu.

Ia menjual jagung bulir dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram dan jagung giling sekitar Rp8.000 per kilogram kepada pembeli di sekitar desa maupun luar desa.

Menurut Marten, masih banyak lahan di Sumba Timur yang belum dimanfaatkan secara maksimal dan bisa dijadikan lahan pertanian produktif.

“Saya melihat jagung ini sebenarnya punya potensi bagus tapi butuh perhatian serius dari pemerintah sampai ke tingkat desa,” katanya.

Baik pemerintah maupun petani sama-sama melihat jagung sebagai komoditas yang memiliki masa depan di Sumba Timur. Namun tanpa pengelolaan lahan yang serius dan dukungan kebijakan pertanian yang kuat, potensi besar tersebut bisa tetap menjadi potensi yang belum tergarap.

Pengembangan jagung dinilai tidak hanya meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja baru dan mengurangi angka kemiskinan di daerah.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network