Hingga kini, polisi telah berhasil mengidentifikasi 360 korban, sementara ratusan lainnya masih dalam proses penelusuran lintas negara.
Lebih dari 200 korban diketahui merupakan warga Australia, sedangkan sisanya berasal dari luar negeri, terutama negara-negara berbahasa Inggris.
Sebagian besar korban berusia 7 hingga 15 tahun, kelompok usia yang dinilai paling rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi di ruang digital.
Penyelidikan mengungkap, Ethan diduga menjalankan aksinya selama 2018 hingga 2025, dengan memanfaatkan anonimitas internet untuk menjaring korban.
“Polisi menduga pria itu membuat banyak profil palsu, baik laki-laki maupun perempuan, untuk membujuk, memaksa, dan mengancam anak-anak agar mengirimkan materi seksual,” ujar Clark.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
