Disclaimer: Informasi ini tidak dimaksudkan untuk mendorong tindakan serupa. Jika Anda mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional, psikolog atau psikiater.*
KUPANG, iNewsSumba.id-Peristiwa memilukan menimpa seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kamis (29/1/2026).
Tragedi ini langsung menyita perhatian Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si. Tanpa menunggu lama, Kapolda memerintahkan Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino untuk turun langsung menemui keluarga korban.
“Saya sudah perintahkan Kapolres Ngada untuk ke kediaman orang tua korban,” tegas Kapolda NTT, Rabu (4/2/2026), di sela acara syukuran Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda NTT.
Sebagai bentuk empati dan tanggung jawab moral, Polda NTT menyalurkan bantuan material sekaligus dukungan moril bagi keluarga korban yang tengah diliputi duka mendalam.
Tak hanya itu, Polda NTT juga mengirimkan tim psikologi dari Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT untuk melakukan pendampingan dan pemulihan psikologis terhadap keluarga korban.
Tim tersebut dipimpin oleh Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan, didampingi Kompol Prasetyo Dwi Laksono dan Bripda Yoseph Alexander Rewo.
Tim psikologi tiba di Kabupaten Ngada pada Rabu (4/2/2026) dan langsung memulai pendampingan intensif di Karadhara, Desa Nenowea, yang dijadwalkan berlangsung hingga 8 Februari 2026.
“Tim melakukan pembinaan dan pendampingan mental kepada keluarga korban,” ujar Kapolda NTT dikutip dari Tribrata News Polda NTT.
Kapolda berharap kehadiran tim ini dapat membantu keluarga korban menghadapi trauma psikologis yang berat pascakejadian tragis tersebut.
“Kita harapkan langkah ini bisa membantu meringankan kesulitan keluarga korban,” katanya.
Sementara itu, polisi masih terus mendalami penyebab pasti peristiwa ini. Berdasarkan penyelidikan awal, motif ekonomi diduga menjadi pemicu, meski belum dapat disimpulkan secara final.
“Motif utama karena hal itu, namun masih didalami. Untuk sementara karena kekecewaan, tapi masih didalami lagi,” jelas Kapolda.
Kasus ini kini menjadi atensi serius Polda NTT, sekaligus pengingat akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak di wilayah pedesaan.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
