HIV di Sumba Timur Naik Tiap Tahun, Gereja dan Pemerintah Diminta Bersinergi
WAINGAPU, iNewsSumba.id – Tren kasus HIV di Kabupaten Sumba Timur terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut mendorong perlunya sinergi antara pemerintah dan gereja dalam melakukan edukasi serta pencegahan di masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam Workshop Kesehatan Reproduksi dan Pengendalian HIV & AIDS yang digelar UPKM/CD Bethesda YAKKUM bersama Sinode Gereja Kristen Sumba di Aula GKS Manubara, Jumat (15/5/2026) siang hingga sore lalu.
Data yang dipaparkan dalam workshop menyebutkan hingga akhir 2025 terdapat 314 kasus HIV di Sumba Timur dengan 131 pasien belum menjalani pengobatan ARV.
Project Manager UPKM/CD Bethesda YAKKUM, Sukendri Siswanto mengatakan peningkatan kasus HIV dipengaruhi semakin aktifnya screening kesehatan yang dilakukan pemerintah.
“Semakin aktif screening HIV dilakukan, maka temuan kasus juga semakin tinggi,” katanya.
Namun di sisi lain, ia menilai edukasi masyarakat terkait HIV masih sangat terbatas akibat keterbatasan anggaran pemerintah.
“Kalau dinas kesehatan terbatas pendanaan, maka perlu melibatkan stakeholder lain termasuk gereja,” ujarnya.
Menurut dia, gereja menjadi salah satu institusi paling efektif untuk melakukan edukasi kesehatan berbasis komunitas.
“Jemaat gereja harus diedukasi agar tidak melakukan stigma terhadap ODHIV,” kata Sukendri.
Ia mengatakan stigma sosial menjadi salah satu faktor yang membuat banyak ODHIV enggan menjalani pengobatan rutin.
Selain itu, edukasi kesehatan reproduksi di masyarakat juga dinilai masih rendah sehingga mempengaruhi peningkatan kasus HIV.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari Dinas Kesehatan Sumba Timur, RSUD Umbu Rara Meha, YMCA Indonesia dan tokoh gereja nasional.
Materi yang dibahas mencakup kesehatan reproduksi, penularan HIV, pengobatan ARV, komunikasi edukatif gereja hingga pendekatan pastoral terhadap ODHIV.
Ketua II BPMS GKS, Pendeta Aprianus Meta Djangga Uma mengatakan gereja siap mendukung program pemerintah dalam pengendalian HIV.
“Kita tentu harus ambil bagian dalam edukasi dan pendampingan jemaat,” katanya.
Ia berharap para pendeta yang mengikuti workshop dapat menjadi agen edukasi di lingkungan gereja masing-masing.
“Kalau gereja bergerak bersama pemerintah, saya yakin stigma bisa dikurangi dan penularan HIV dapat ditekan,” ujarnya.
Workshop tersebut juga menghasilkan rencana tindak lanjut berupa penguatan edukasi kesehatan reproduksi dan HIV berbasis gereja di Sumba Timur.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu