Tiap Hari Warga Desa Dikira Bertaruh Nyawa di Jembatan Bambu, Brimob Hadir Bawa Harapan
TAMBOLAKA, iNewsSumba.id-Akses infrastruktur di pedalaman Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur masih menjadi persoalan klasik yang belum sepenuhnya terjawab. Di Desa Dikira, sebuah jembatan bambu sepanjang kurang lebih 50 meter menjadi satu-satunya penghubung antarwilayah.
Setiap hari, warga harus bertaruh nyawa saat melintasi jembatan tersebut. Dengan ketinggian hampir 20 meter dari permukaan sungai, langkah kaki harus dihitung dengan cermat.
Di bawah jembatan, arus sungai mengalir deras. Saat hujan turun di wilayah hulu, debit air meningkat drastis dan kerap meluap tanpa peringatan.
Kondisi bambu yang mulai rapuh dan licin membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Beberapa warga mengaku pernah nyaris terjatuh saat menyeberang.
Meski demikian, jembatan itu tetap menjadi akses utama menuju kebun, pasar, sekolah, hingga sumber air bersih. Tidak ada jalur alternatif lain yang bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.
Kepala Desa Dikira, Yulius Anggo Ate, menyebut kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun. Warga, katanya, hanya bisa berharap ada perhatian serius dari pemerintah.
Menurutnya, jembatan darurat yang ada saat ini tidak dirancang untuk beban berat. Namun kebutuhan hidup memaksa warga tetap melintasinya setiap hari.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata ketimpangan pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman Sumba. Di saat daerah lain berbicara konektivitas digital, warga Dikira masih berjuang soal akses dasar.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu