get app
inews
Aa Text
Read Next : Tambang Emas Menyusup ke Taman Nasional Matalawa, Satu Titik Resmi Diidentifikasi

Penambangan Liar di Wanggameti : Emas dan Tawa Membahana, Derai Air Mata Hanya Soal Waktu

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:16 WIB
header img
Beberapa peralatan pendukung aktifitas penambangan emas liar di hulu sungai sekitar kawasan TN Matalawa-Foto: istimewa

Ancaman Merkuri, Sianida, dan Sungai yang Sekarat

Aktivitas tambang emas skala kecil kerap menggunakan merkuri dan sianida dalam proses pemisahan emas. Limbah berbahaya itu, menurut Deni, sering kali dibuang langsung ke aliran sungai tanpa pengolahan.

“Air menjadi keruh, tercemar, dan beracun. Yang mengonsumsi bukan hanya manusia, tetapi juga ternak, tanaman, dan seluruh ekosistem,” tegasnya.

Selain pencemaran kimia, pengerukan tanah secara masif juga meningkatkan kekeruhan air dan merusak struktur tanah. Daya serap air menurun, cadangan air tanah terganggu, dan risiko kekeringan meningkat.

Hilangnya vegetasi penutup tanah di daerah hulu mempercepat erosi. Tanah yang terbawa arus hujan akan mengendap di sungai-sungai hilir, menyebabkan pendangkalan dan perubahan alur sungai.

“Dalam kondisi tertentu, ini bisa memicu banjir bandang dan longsor yang mengancam pemukiman warga,” ujar Deni.

Aktivitas tambang di badan sungai juga kerap mengubah alur alami sungai dan menyebabkan abrasi tebing, memperparah kerusakan lingkungan.

Pembukaan lahan tambang di kawasan hulu turut menghancurkan habitat flora dan fauna. Kawasan yang seharusnya menjadi zona penyangga (buffer zone) bagi Taman Nasional justru berubah menjadi titik tekan bagi ekosistem.

“Kerugian ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ekonomi, sosial, dan budaya. Namun sering kali yang terlihat hanya keuntungan sesaat,” kata Deni.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut