Konektivitas Udara Sumba Bergeser, Warga Kini Harus Bertumpu ke Tambolaka
SUMBA, iNewsSumba.id—Perubahan rute penerbangan membuat peta mobilitas masyarakat Pulau Sumba bergeser. Jika sebelumnya Waingapu menjadi salah satu pintu utama, kini Tambolaka mengambil peran sentral sebagai jalur ke Bali dan koneksi ke jaringan penerbangan nasional.
Ketiadaan rute Denpasar–Waingapu membuat masyarakat Sumba Timur harus beradaptasi. Mereka yang ingin terbang ke Bali kini harus transit melalui Kupang atau memilih perjalanan darat berjam-jam menuju Bandara Lede Kalumbang (Tambolaka).
Situasi ini bukan sekadar persoalan teknis penerbangan, tetapi berpengaruh pada aktivitas bisnis, pariwisata, dan mobilitas keluarga. Banyak warga mengeluh terkait biaya perjalanan yang tinggi juga waktu tempuh yang cukup lama.
Wings Air yang selama ini menjadi tumpuan Waingapu menarik seluruh jadwal Bali. Sriwijaya Air yang sempat hadir pun menghilang setelah hanya sebulan beroperasi.
Kepala Bandara Umbu Mehang Kunda, I Made Sutamayasa, membenarkan kondisi itu. “Wings Air tidak lagi melayani Denpasar–Waingapu. Sriwijaya juga sudah berhenti sejak awal November,” ujarnya.
Kini Waingapu hanya mengandalkan rute ke Kupang dan Lombok. Pilihan yang terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terus bertumbuh.
Sebaliknya, Tambolaka justru semakin menggeliat. Selain Batik Air dengan armada modern, ada NAM Air dan penerbanganyang tetap berjalan.
Runway Tambolaka yang panjang dan aman menjadi alasan banyak maskapai nyaman beroperasi. Sosok Agus Priyatmono selaku Kepala Bandara Lede Kalumbang memastikan kesiapan penuh bandara.
“Di Tambolaka kapasitas maksimal pesawat masih bisa. Sampai 130 penumpang aman tanpa pembatasan,” tegasnya.
Tak heran, acara peresmian Batik Air disambut antusias. Pemerintah daerah menaruh harapan besar terhadap dampaknya bagi ekonomi rakyat.
Bupati Ratu Wulla menyebut konektivitas udara adalah nyawa percepatan pembangunan. “Ini akan memperkuat integrasi wilayah dan ekonomi masyarakat,” katanya.
Namun realitas di lapangan menuntut perhatian lebih besar pemerintah pusat. Sumba tidak bisa berkembang jika hanya satu bandara yang kuat, sementara lainnya tertinggal.
Perbaikan runway, penghilangan obstacle, dan negosiasi ulang slot penerbangan mesti menjadi agenda serius. Jika tidak, ketimpangan mobilitas antarwilayah di Sumba akan semakin terasa.
Hari ini, Bandara Tambolaka menjadi harapan. Tapi ke depan, masyarakat Sumba berharap seluruh wilayah pulau ini memiliki akses udara yang setara. Karena pembangunan tidak boleh hanya tumbuh di satu titik, melainkan merata bagi semua.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu