get app
inews
Aa Text
Read Next : Sempat Landingkan Harapan, Sriwijaya Air Kini Gantungkan Asa Warga Sumba Timur dalam Kekecewaan

Konektivitas Udara Sumba Bergeser, Warga Kini Harus Bertumpu ke Tambolaka

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:11 WIB
header img
Pesawat Boeing Batik Air disambut water Salute saat cermeonial terbang perdana ke Bandara Lede Kalumbag. Bupati SBD dan warga setempat bahkan Pemkab Sumba Barat dan Sumba Tengah sambut gembira penuh antusias-Foto Kolase: Prokompi SBD/iNews Sumba

SUMBA, iNewsSumba.id—Perubahan rute penerbangan membuat peta mobilitas masyarakat Pulau Sumba bergeser. Jika sebelumnya Waingapu menjadi salah satu pintu utama, kini Tambolaka mengambil peran sentral sebagai jalur ke Bali dan koneksi ke jaringan penerbangan nasional.

Ketiadaan rute Denpasar–Waingapu membuat masyarakat Sumba Timur harus beradaptasi. Mereka yang ingin terbang ke Bali kini harus transit melalui Kupang atau memilih perjalanan darat berjam-jam menuju Bandara Lede Kalumbang (Tambolaka).

Situasi ini bukan sekadar persoalan teknis penerbangan, tetapi berpengaruh pada aktivitas bisnis, pariwisata, dan mobilitas keluarga. Banyak warga mengeluh terkait biaya perjalanan yang tinggi juga waktu tempuh yang cukup lama.

Wings Air yang selama ini menjadi tumpuan Waingapu menarik seluruh jadwal Bali. Sriwijaya Air yang sempat hadir pun menghilang setelah hanya sebulan beroperasi.

Kepala Bandara Umbu Mehang Kunda, I Made Sutamayasa, membenarkan kondisi itu. “Wings Air tidak lagi melayani Denpasar–Waingapu. Sriwijaya juga sudah berhenti sejak awal November,” ujarnya.

Kini Waingapu hanya mengandalkan rute ke Kupang dan Lombok. Pilihan yang terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terus bertumbuh.

Sebaliknya, Tambolaka justru semakin menggeliat. Selain Batik Air dengan armada modern, ada NAM Air dan penerbanganyang tetap berjalan.

Runway Tambolaka yang panjang dan aman menjadi alasan banyak maskapai nyaman beroperasi. Sosok Agus Priyatmono selaku Kepala Bandara Lede Kalumbang memastikan kesiapan penuh bandara.

“Di Tambolaka kapasitas maksimal pesawat masih bisa. Sampai 130 penumpang aman tanpa pembatasan,” tegasnya.

Tak heran, acara peresmian Batik Air disambut antusias. Pemerintah daerah menaruh harapan besar terhadap dampaknya bagi ekonomi rakyat.

Bupati Ratu Wulla menyebut konektivitas udara adalah nyawa percepatan pembangunan. “Ini akan memperkuat integrasi wilayah dan ekonomi masyarakat,” katanya.

Namun realitas di lapangan menuntut perhatian lebih besar pemerintah pusat. Sumba tidak bisa berkembang jika hanya satu bandara yang kuat, sementara lainnya tertinggal.

Perbaikan runway, penghilangan obstacle, dan negosiasi ulang slot penerbangan mesti menjadi agenda serius. Jika tidak, ketimpangan mobilitas antarwilayah di Sumba akan semakin terasa.

Hari ini, Bandara Tambolaka menjadi harapan. Tapi ke depan, masyarakat Sumba berharap seluruh wilayah pulau ini memiliki akses udara yang setara. Karena pembangunan tidak boleh hanya tumbuh di satu titik, melainkan merata bagi semua.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut