Defisit APBN Melebar, Pemerintah Pilih Gas Belanja daripada Rem Penghematan
JAKARTA, iNewsSumba.id – Pelebaran defisit APBN 2025 hingga mencapai 2,92 persen PDB menjadi bukti bahwa pemerintah memilih memperkuat belanja negara ketimbang melakukan pengetatan anggaran di tengah tekanan ekonomi. Keputusan ini diambil untuk memastikan mesin ekonomi tetap menyala dan tidak berhenti berputar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah sengaja mendorong belanja agar aktivitas ekonomi tetap terjaga. Pemerintah tidak ingin masyarakat, pelaku usaha, dan daerah menjadi korban jika anggaran justru ditahan.
“Kalau kita pangkas belanja hanya demi menjaga angka, yang terdampak langsung itu rakyat dan dunia usaha. Itu risiko paling besar,” ujar Purbaya.
Realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu. Bahkan belanja kementerian/lembaga melonjak hingga 129,3 persen dari target, menunjukkan banyak program tetap berjalan dan tidak dihentikan.
“Ini bukti bahwa pemerintah tidak diam. Kita dorong belanja agar ekonomi tetap hidup dan bergerak,” tegasnya.
Belanja pemerintah pusat mencapai Rp2.602,3 triliun, sementara transfer ke daerah (TKD) menembus Rp849 triliun. Pemerintah meyakini aliran belanja ini menjaga konsumsi, membuka peluang usaha, dan menopang pembangunan.
Di sisi lain, tantangan datang dari penerimaan negara yang tidak sepenuhnya mencapai target karena perlambatan ekonomi. Namun pemerintah memastikan keseimbangan fiskal tetap terjaga.
Purbaya menegaskan, keputusan mempertahankan belanja meski defisit melebar sudah melalui kajian mendalam. Ini bukan kebijakan spontan, tetapi langkah yang dianggap paling rasional untuk menyelamatkan ekonomi.
“Ini adalah pilihan kebijakan. Kita menjaga ekonomi tetap bergerak agar masyarakat tidak semakin tertekan,” katanya.
Dengan fondasi yang dijaga melalui belanja tahun 2025, pemerintah berharap kondisi ekonomi 2026 menjadi lebih kuat dan stabil.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu