Di sisi lain, neraca perdagangan memang masih mencatat surplus 3,32 miliar dolar AS. Namun kualitasnya dipertanyakan.
Ekspor turun 3,10 persen menjadi 22,53 miliar dolar AS. Sementara impor justru naik 1,51 persen ke 19,21 miliar dolar AS.
Surplus ada, tetapi tidak solid. Ia tidak cukup kuat menjadi bantalan ketika tekanan global datang bersamaan.
“Rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah,” tegas Ibrahim.
Ia memproyeksikan nilai tukar akan berada di kisaran Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS dalam waktu dekat.
Situasi ini menempatkan rupiah di posisi rawan. Ketika faktor eksternal belum mereda dan faktor internal mulai melemah, ruang bertahan semakin sempit.
Pasar tidak menunggu. Ia bereaksi cepat. Dan untuk saat ini, rupiah masih berada di sisi yang tertekan.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
