Rupiah Melemah, Turun 57 Poin atas Dolar Amerika Serikat

Tim iNews
Ilustrasi, dolar Amerika Serikat tekan Rupiah (Foto: Istimewa).

JAKARTA, iNewsSumba.id – Dalam penutupan perdagangan Senin (4/5/2026), mata uang Indonesia itu kembali melemah ke level Rp17.394 per dolar Amerika Serikat. Turun 57 poin atau 0,33 persen. Angka ini mempertegas bahwasanya tekanan datang dari dua arah sekaligus.

Dari luar, situasi global memanas. Dari dalam, fondasi ekonomi mulai menunjukkan retak halus.Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut sumber tekanan utama masih berasal dari faktor eksternal. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik kegelisahan pasar.

“Amerika Serikat akan memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Ia adalah simpul strategis distribusi minyak dunia. Ketika kawasan ini bergejolak, pasar keuangan global ikut bergetar.

Situasi makin rumit karena tarik ulur antara Washington dan Teheran belum menemukan titik temu. Trump mendorong kesepakatan nuklir, sementara Iran memilih menunda pembahasan itu.

“Iran mengusulkan agar isu nuklir dikesampingkan sampai perang berakhir,” tulis Ibrahim.

Ketidakpastian ini membuat investor menarik diri dari aset berisiko. Dolar AS menguat. Rupiah pun tertekan.

Namun persoalan tidak berhenti di sana. Dari dalam negeri, tekanan mulai terasa nyata.

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia pada April 2026 turun ke 49,1. Angka ini berada di bawah ambang batas ekspansi 50. Artinya, sektor manufaktur resmi masuk fase kontraksi.

Ini bukan sekadar angka teknis. Ini sinyal perlambatan. Produksi menurun, permintaan melemah, dan industri kehilangan tenaga dorong.

Penurunan produksi bahkan terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju yang semakin cepat. Kondisi ini menjadi yang terburuk sejak Mei tahun lalu.

Di sisi lain, neraca perdagangan memang masih mencatat surplus 3,32 miliar dolar AS. Namun kualitasnya dipertanyakan.

Ekspor turun 3,10 persen menjadi 22,53 miliar dolar AS. Sementara impor justru naik 1,51 persen ke 19,21 miliar dolar AS.

Surplus ada, tetapi tidak solid. Ia tidak cukup kuat menjadi bantalan ketika tekanan global datang bersamaan.

“Rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah,” tegas Ibrahim.

Ia memproyeksikan nilai tukar akan berada di kisaran Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS dalam waktu dekat.

Situasi ini menempatkan rupiah di posisi rawan. Ketika faktor eksternal belum mereda dan faktor internal mulai melemah, ruang bertahan semakin sempit.

Pasar tidak menunggu. Ia bereaksi cepat. Dan untuk saat ini, rupiah masih berada di sisi yang tertekan.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network