Melihat kondisi itu, personel Batalyon C Pelopor Korps Brimob Polda NTT berinisiatif membangun jembatan darurat bersama masyarakat. Tak ada proyek besar, tak ada alat berat, yang ada hanyalah tekad dan gotong royong.
Kayu milik warga ditebang dan dipikul bersama. Fondasi disiapkan dengan peralatan sederhana. Hari demi hari, seragam cokelat loreng bercampur dengan pakaian kerja warga tanpa sekat.
Setiap papan yang terpasang menjadi simbol kebersamaan. Keringat yang jatuh di atas tanah basah menjadi saksi bahwa harapan bisa dibangun dari niat baik.
Kini, anak-anak tak lagi dibayangi arus deras setiap hendak berangkat sekolah. Warga pun bisa melintas dengan lebih aman.
“Ini bukan hanya jembatan kayu. Ini jembatan masa depan anak-anak kami,” kata Malo Bani, matanya berkaca-kaca.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
