Kini Waingapu hanya mengandalkan rute ke Kupang dan Lombok. Pilihan yang terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terus bertumbuh.
Sebaliknya, Tambolaka justru semakin menggeliat. Selain Batik Air dengan armada modern, ada NAM Air dan penerbanganyang tetap berjalan.
Runway Tambolaka yang panjang dan aman menjadi alasan banyak maskapai nyaman beroperasi. Sosok Agus Priyatmono selaku Kepala Bandara Lede Kalumbang memastikan kesiapan penuh bandara.
“Di Tambolaka kapasitas maksimal pesawat masih bisa. Sampai 130 penumpang aman tanpa pembatasan,” tegasnya.
Tak heran, acara peresmian Batik Air disambut antusias. Pemerintah daerah menaruh harapan besar terhadap dampaknya bagi ekonomi rakyat.
Bupati Ratu Wulla menyebut konektivitas udara adalah nyawa percepatan pembangunan. “Ini akan memperkuat integrasi wilayah dan ekonomi masyarakat,” katanya.
Namun realitas di lapangan menuntut perhatian lebih besar pemerintah pusat. Sumba tidak bisa berkembang jika hanya satu bandara yang kuat, sementara lainnya tertinggal.
Perbaikan runway, penghilangan obstacle, dan negosiasi ulang slot penerbangan mesti menjadi agenda serius. Jika tidak, ketimpangan mobilitas antarwilayah di Sumba akan semakin terasa.
Hari ini, Bandara Tambolaka menjadi harapan. Tapi ke depan, masyarakat Sumba berharap seluruh wilayah pulau ini memiliki akses udara yang setara. Karena pembangunan tidak boleh hanya tumbuh di satu titik, melainkan merata bagi semua.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
