Pemuda 21 Tahun Tewas dalam Bentrokan Berdarah Narasaosina-Waiburak, Konflik Lama Kembali Memanas
Menurut Stefanus, tiga korban yang masih dirawat mengalami luka akibat senjata tajam dan kini masih berada dalam pengawasan tenaga medis. Kondisi mereka terus dipantau untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
Hingga Sabtu sore, aparat kepolisian belum mengeluarkan keterangan resmi mengenai kronologi lengkap bentrokan tersebut. Polisi juga masih melakukan pendataan terhadap kemungkinan adanya korban dari pihak Desa Narasaosina sekaligus mengumpulkan sejumlah keterangan dari para saksi.
Untuk mencegah bentrokan susulan, personel keamanan disiagakan di lokasi konflik. Aparat melakukan patroli dan pengamanan di sejumlah titik yang dinilai rawan guna mengantisipasi aksi balasan dari kedua kelompok warga.
Peristiwa berdarah ini bukan kali pertama terjadi. Konflik antara Desa Narasaosina dan Desa Waiburak telah berlangsung selama bertahun-tahun dan dipicu sengketa batas wilayah serta klaim kepemilikan tanah adat yang hingga kini belum menemukan titik penyelesaian.
Sebelumnya, bentrokan serupa juga terjadi pada 9 Mei 2026. Saat itu konflik menyebabkan belasan rumah warga terbakar dan sedikitnya tujuh orang mengalami luka tembak sehingga harus menjalani perawatan di rumah sakit. Rentetan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang mendasari konflik belum berhasil diselesaikan secara menyeluruh.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) sebelumnya telah beberapa kali memfasilitasi dialog damai. Namun, tragedi terbaru ini kembali menjadi pengingat bahwa penyelesaian sengketa tanah adat membutuhkan langkah konkret, kesepakatan bersama, serta komitmen seluruh pihak agar konflik berkepanjangan tidak terus merenggut korban jiwa.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu