get app
inews
Aa Text
Read Next : Saatnya Beli Emas: Harga Turun dari Rp2,305 Juta Jadi Rp2,29 Juta per Gram

Emas Antam Dibayangi Lonjakan Baru, Pekan Depan Bisa Sentuh Rp2,9 Juta per Gram

Minggu, 10 Mei 2026 | 15:29 WIB
header img
Harga emas Antam diprediksi kembali naik pekan depan (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNewsSumba.id — Harga emas dunia diperkirakan kembali bergerak liar pada pekan depan seiring memanasnya situasi geopolitik global. Logam mulia domestik bahkan disebut memiliki peluang besar mencetak rekor tertinggi baru di level Rp2.900.000 per gram apabila tensi konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur terus meningkat.

Prediksi tersebut disampaikan pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam analisis pasar terbaru yang dirilis Minggu (10/5/2026).

Menurut Ibrahim, arah harga emas kini sangat dipengaruhi perkembangan konflik internasional, khususnya ancaman serangan Rusia ke Ukraina serta ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz.

Ia mengatakan, emas kembali menjadi instrumen safe haven yang paling diburu investor global di tengah ketidakpastian politik dan ancaman perang terbuka.

“Kalau seandainya menguat, resisten kedua itu di 4.851 dolar per troy ounce. Logam mulianya kemungkinan besar akan mencapai Rp2.900.000 per gram,” ungkap Ibrahim.

Ia menjelaskan, fluktuasi harga emas pekan depan diprediksi sangat tajam karena terdapat selisih cukup lebar antara titik support dan resistance.

Jika mengalami tekanan jual, harga logam mulia diperkirakan masih bertahan di level Rp2.750.000 per gram. Namun apabila sentimen geopolitik kembali memanas, kenaikan signifikan sangat mungkin terjadi.

“Range-nya besar sekali. Ada potensi koreksi, tapi juga peluang penguatan yang sangat tinggi,” katanya.

Selain faktor perang, penguatan indeks dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak mentah dunia turut menjadi pemicu kenaikan harga emas domestik.

Ibrahim memprediksi indeks dolar AS dapat naik ke level 100.600, sedangkan harga minyak mentah WTI berpeluang kembali menembus USD113 per barel.

Kondisi tersebut dinilai akan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, namun di sisi lain menguntungkan pemegang emas karena harga logam mulia dalam negeri ikut terdorong naik.

“Biasanya kalau dolar dan minyak menguat, rupiah tertekan. Tapi bagi emas, ini justru jadi bahan bakar kenaikan harga,” ujarnya.

Ibrahim juga menyoroti aksi pembelian emas besar-besaran yang dilakukan bank sentral dunia, khususnya Tiongkok, sebagai faktor fundamental yang menopang harga emas global tetap tinggi.

“Bank Sentral Tiongkok memperkuat cadangan devisa nasionalnya. Pada kuartal pertama, mereka melakukan pembelian sebanyak 7,15 ton,” jelas Ibrahim.

Dengan tambahan tersebut, Tiongkok kini masuk lima besar negara dengan cadangan emas terbesar dunia dengan total mencapai 2.313,48 ton.

 

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut