Bunker Kiamat di Queenstown, Kota Cantik yang Disebut Surga Aman Para Miliarder
QUEENSTOWN, iNewsSumba.id – Di kaki pegunungan Alpen Selatan, danau membentang seperti cermin raksasa yang memantulkan langit biru. Kota resor ini kerap disandingkan dengan Aspen.
Dilansir dari Sindonews, Minggu (22/2/2026) menyebutkan, dalam beberapa tahun terakhir, nama Queenstown Selandia Baru lebih sering dikaitkan dengan isu yang jauh dari ski dan wisata: bunker anti-kiamat milik miliarder dunia.
Rumor itu beredar lama. Iklan properti bahkan pernah menyebut sebuah rumah sebagai “bunker miliarder” versi hemat. Di pusat kota, ada bar bernama The Bunker, sindiran halus yang seolah mengafirmasi kabar tentang tempat persembunyian bawah tanah.
Namun ketika isu itu ditelusuri, tak ada bukti visual yang mudah ditemukan. Tidak seperti di Amerika atau Eropa, bunker bawah tanah di Queenstown tak pernah benar-benar terungkap ke publik.
Meski demikian, reputasi kota ini sebagai “tempat aman menghadapi akhir zaman” tak sepenuhnya mengada-ada. Selama bertahun-tahun, Queenstown menarik minat kalangan elite global yang ingin menjauh dari ketegangan geopolitik.
Nama seperti miliarder Silicon Valley Peter Thiel dan mantan pembawa berita Matt Lauer tercatat memiliki properti di Selandia Baru. Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, perhatian terhadap negeri ini kembali melonjak.
Perusahaan pembuat bunker asal Amerika, Rising S, bahkan mengklaim meningkatnya minat pengiriman bunker ke Selandia Baru. “Kami tidak menjual rasa takut. Kami menjual kesiapan,” kata manajer umumnya, Gary Lynch.
Menurut Lynch, perusahaannya telah menjual sekitar 1.400 bunker dalam 18 tahun terakhir. Tahun ini saja, ia memperkirakan selusin unit akan dikirim ke Selandia Baru. “Ada banyak orang yang membeli tanah dan membangun bunker di bawah tanah,” ujarnya.
Harga bunker yang ditawarkan mulai sekitar USD39.500 hingga jutaan dolar, lengkap dengan dapur, toilet, listrik tenaga surya, hingga sistem pengawasan.
Namun, ketika diminta menunjukkan lokasi bunker di Selandia Baru, Lynch memilih merahasiakannya. Ia bahkan berseloroh bahwa dirinya hampir membutuhkan bantuan pesulap David Copperfield untuk mengirimkan bunker tanpa terdeteksi.
Di sisi lain, pejabat dan warga lokal justru tertawa ketika mendengar isu tersebut. “Saya belum pernah melihat bunker,” kata Wali Kota Queenstown, Jim Boult. “Ini tempat terindah di dunia. Saya mengerti kenapa orang ingin di sini, tapi bunker? Saya tidak tahu.”
Pengusaha lokal Eion Edgar juga menyampaikan keraguan serupa. “Mungkin tren baru. Tapi saya akan terkejut,” ujarnya.
Di kota berpenduduk sekitar 40 ribu jiwa ini, lebih dari 25 persen rumah pribadi tidak dihuni. Sekitar 4,1 persen properti pada kuartal pertama tahun tertentu dialihkan kepada pembeli non-warga Selandia Baru.
Tanpa registrasi resmi kepemilikan asing, sulit mengetahui berapa banyak properti elite global di wilayah ini. Yang jelas, Queenstown tetap menjadi magne, entah sebagai destinasi wisata, investasi, atau simbol tempat perlindungan terakhir.
Di negeri yang lebih akrab dengan gempa dan gunung berapi ketimbang ancaman perang nuklir, “bunker” mungkin lebih merupakan metafora: tentang stabilitas politik, jarak geografis, dan rasa aman.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu