get app
inews
Aa Text
Read Next : Bupati Sumba Timur Siapkan Lahan untuk Budidaya Udang Terintegrasi, KKP Pastikan Dukungan Penuh

“Palapang Njara Humba Cup II: Dari Pacuan Tradisi ke Arena Merawat Kebangsaan se Flobamorata"

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 20:21 WIB
header img
Even Palapang Njara (Pacuan Kuda Tradisional Sumba Timur) Humba Cup II diikuti 726 ekor kuda dari sejumlah wilayah NTT . Ketua Pordasi Sumba Timur sebutkan even ini sebagai rangkaian kemeriahan HUT RI ke-80-Foto Kolase: Dion. Umbu Ana Lodu

WAINGAPU, iNewsSumba.id – Lintasan pacuan di Rihi Eti, Prailiu, menjadi saksi bagaimana budaya dan nasionalisme berpadu. Pacuan Kuda Humba Cup II resmi ditutup pada Sabtu (30/8/2025), menandai berakhirnya hajatan besar dalam rangka HUT ke-80 Republik Indonesia.

Dandim 1601/Sumba Timur Letkol Inf Dobby Noviyanto menutup acara dengan pesan kuat: olahraga tradisional tak boleh hanya dipandang sebagai hiburan musiman.

Palapang Njara adalah jantung budaya kita. Dari sini kita belajar kebersamaan, sportivitas, dan cinta tanah air,” ujarnya.

Ajang ini mengadu 726 ekor kuda dari 15 kelas. Tak tanggung-tanggung, hadiah yang disiapkan mencapai Rp28 juta untuk setiap kelas. Juara pertama berhak atas trofi bergengsi dan uang Rp10 juta, sementara peringkat di bawahnya menerima bonus berjenjang.

Suasana meriah atas kemenangan kuda, diantaranya nampak selepas finish dalam salah satu kelas. Dimana kuda Oka Sawu dari Bajawa,  milik Khristoforus, naik podium juara. Dengan penuh sukacita ia mengaku kemenangan ini buah dari ketekunan sekaligus doa. “Hanya seminggu persiapan, tapi hasilnya luar biasa. Malam ini sudah pasti ada syukuran,” katanya disambut riuh tepuk tangan selepas goyang Samato bersama pendukung, pemilik dan juga perawat dan joki.

Menurut Ketua Pordasi Sumba Timur, Felix Wongkar, antusiasme peserta tahun ini mencerminkan betapa pacuan kuda masih menjadi magnet sosial dan ekonomi. “Kegiatan ini bukan hanya pesta olahraga, tapi juga ruang interaksi ekonomi dan budaya,” ujarnya.

Sejak pembukaan oleh Bupati Umbu Lili Pekuwali pada 20 Agustus, lapangan Rihi Eti tak pernah sepi. Penonton datang tak hanya dari Sumba, tapi juga dari berbagai daerah NTT. Mereka ikut merayakan kemerdekaan dengan cara yang berbeda: lewat derap langkah kuda.

Kini, setelah penutupan, pesan kebudayaan kembali bergema. Pacuan kuda bukan hanya ajang hiburan, tetapi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi leluhur dan semangat kemerdekaan.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut