Getaran gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Kabupaten Kupang dengan intensitas mencapai V MMI, sementara Kota Kupang, Soe, Kefamenanu, dan Baa merasakan guncangan IV MMI. Kondisi itu sempat membuat sebagian warga keluar rumah untuk menghindari risiko tertimpa material bangunan apabila terjadi guncangan lanjutan.
Meski demikian, hasil pemantauan BMKG hingga pukul 18.24 WIB belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan. Kondisi tersebut menjadi kabar yang menenangkan bagi masyarakat, namun kewaspadaan tetap perlu dijaga mengingat aktivitas seismik dapat berkembang sesuai dinamika geologi di wilayah tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpancing isu atau informasi yang beredar di media sosial maupun aplikasi percakapan yang tidak memiliki dasar ilmiah. Seluruh informasi mengenai aktivitas gempa bumi, termasuk potensi gempa susulan, hanya disampaikan melalui kanal resmi BMKG yang telah terverifikasi.
Selain itu, masyarakat diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa hingga dipastikan aman untuk ditempati. Langkah sederhana seperti mengenali jalur evakuasi, mematikan aliran listrik bila diperlukan, serta tetap berada di area terbuka setelah terjadi guncangan juga menjadi bagian dari upaya mitigasi untuk mengurangi risiko korban.
Peristiwa gempa di Kupang menjadi momentum penting untuk meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat. Pemahaman yang benar mengenai gempa susulan akan membantu warga mengambil keputusan secara rasional saat bencana terjadi, sehingga kepanikan dapat diminimalkan dan penyebaran informasi yang menyesatkan dapat dicegah.
BMKG berharap masyarakat Nusa Tenggara Timur tetap tenang, meningkatkan kesiapsiagaan, serta terus mengikuti perkembangan informasi resmi. Dengan edukasi yang baik dan disiplin dalam mengikuti arahan lembaga berwenang, risiko yang ditimbulkan akibat bencana gempa bumi dapat ditekan seminimal mungkin.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
