WAIBAKUL, iNewsSumba.id - Hamparan savana yang terhampar sekitar hutan kawasan Air Terjun Matayangu di Desa Manurara, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, tampak bergoyang pelan diterpa angin. Dari kejauhan, ilalang yang tumbuh liar seolah hanya menjadi bagian dari lanskap alam Sumba. Namun, bagi masyarakat setempat, tanaman itu adalah sumber kehidupan yang diwariskan lintas generasi.
Menjelang siang, aktivitas di pondok-pondok sederhana yang berdiri sekitar 30 meter dari pos jaga menuju Air Terjun Matayangu belum menunjukkan tanda-tanda usai. Bunyi golok yang membelah batang ilalang bersahut-sahutan, berpadu dengan suara tawa para pekerja yang menikmati rutinitas mereka di tengah terik matahari.
Di bawah pondok beratap ilalang, tangan-tangan terampil memotong, merapikan, lalu mengikat batang demi batang hingga membentuk gulungan besar. Setiap ikatan disusun rapi menunggu pembeli yang datang dari berbagai daerah di Pulau Sumba.
Di waktu yang sama, kendaraan wisatawan terus berdatangan menuju Air Terjun Matayangu. Tidak sedikit yang berhenti sejenak untuk menyaksikan proses pengolahan ilalang. Pemandangan itu menjadi atraksi sederhana yang memperlihatkan bagaimana alam dan budaya berpadu dalam kehidupan masyarakat Desa Manurara.
Tak jauh dari pondok, sejumlah perempuan memanen ilalang di hamparan savana. Dengan penuh ketelitian mereka memilih batang yang sudah cukup tua agar menghasilkan kualitas terbaik. Sesekali mereka tersenyum ketika kamera mengabadikan aktivitas yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
