Di sisi lain, pejabat dan warga lokal justru tertawa ketika mendengar isu tersebut. “Saya belum pernah melihat bunker,” kata Wali Kota Queenstown, Jim Boult. “Ini tempat terindah di dunia. Saya mengerti kenapa orang ingin di sini, tapi bunker? Saya tidak tahu.”
Pengusaha lokal Eion Edgar juga menyampaikan keraguan serupa. “Mungkin tren baru. Tapi saya akan terkejut,” ujarnya.
Di kota berpenduduk sekitar 40 ribu jiwa ini, lebih dari 25 persen rumah pribadi tidak dihuni. Sekitar 4,1 persen properti pada kuartal pertama tahun tertentu dialihkan kepada pembeli non-warga Selandia Baru.
Tanpa registrasi resmi kepemilikan asing, sulit mengetahui berapa banyak properti elite global di wilayah ini. Yang jelas, Queenstown tetap menjadi magne, entah sebagai destinasi wisata, investasi, atau simbol tempat perlindungan terakhir.
Di negeri yang lebih akrab dengan gempa dan gunung berapi ketimbang ancaman perang nuklir, “bunker” mungkin lebih merupakan metafora: tentang stabilitas politik, jarak geografis, dan rasa aman.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
