Antrean BBM di Waingapu Mengular, Pengelola SPBU Akui Pasokan dari Depo Pertamina Turun Separuh
WAINGAPU, iNewsSumba.id - Antrean panjang kendaraan bermotor di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menjadi perhatian. Dalam hampir sepekan terakhir, kendaraan mengular hingga keluar kawasan SPBU, bahkan semakin padat dalam tiga hari terakhir.
Situasi tersebut membuat masyarakat harus menyediakan waktu lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Antrean tidak hanya dipadati sepeda motor, tetapi juga kendaraan roda empat dan kendaraan berukuran lebih besar.
Kepadatan kendaraan yang menumpuk hingga ke jalan raya turut berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas. Di sisi lain, masyarakat yang hendak mengisi BBM juga harus menghadapi ketidakpastian waktu tunggu.
Di tengah kondisi tersebut, pengelola SPBU Kambaniru, melalui Admin Ira dan operator sekaligus pengawas Meki, membenarkan adanya pembatasan pasokan dari Depo Pertamina Waingapu.
Menurut keterangan keduanya, pasokan yang biasanya mencapai 16 kiloliter per hari kini turun menjadi delapan kiloliter untuk masing-masing jenis BBM yang dimaksud.
Penurunan pasokan tersebut menjadi salah satu informasi penting untuk memahami situasi antrean di Waingapu. Meski demikian, penyebab pembatasan, cakupan penerapan, dan perkiraan waktu normalisasi pasokan masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak Depo Pertamina Waingapu.
Antrean panjang juga diwarnai kehadiran sejumlah pengecer yang menggunakan kendaraan bertangki besar. Keberadaan mereka kemudian menjadi sorotan karena sebagian masyarakat menduga pembelian dalam jumlah besar ikut memengaruhi ketersediaan BBM bagi konsumen lain.
Namun, keterlibatan pengecer dalam antrean tidak serta-merta membuktikan bahwa mereka merupakan penyebab utama kesulitan BBM. Persoalan ini perlu ditelusuri dengan melihat jumlah pasokan, pola distribusi, volume pembelian, serta pengawasan penyaluran BBM.
Di tingkat pengecer, Pertalite dilaporkan dijual sekitar Rp20.000 per botol bekas air mineral berisi kurang lebih 1,5 liter. Sementara solar dijual sekitar Rp65.000 hingga Rp75.000 per jeriken berkapasitas lima liter.
Masyarakat berharap ada kejelasan dari pihak terkait mengenai pembatasan pasokan dan langkah penanganannya. Kepastian distribusi dinilai penting agar antrean tidak terus berulang dan kebutuhan BBM warga Waingapu dapat terpenuhi secara lebih tertib.
Editor: Dionisius Umbu Ana Lodu