Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo Bongkar Alasan Tak Langsung Datang ke Flores Usai Gempa M7,7: Saya Beri Ruang untuk Petugas
Advertisement . Scroll to see content

Ketika Jabatan Berakhir, Pengabdian Tak Boleh Ikut Pergi: Dari Hoegeng hingga Listyo Sigit

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:33 WIB
  • author Tim iNews
Ketika Jabatan Berakhir, Pengabdian Tak Boleh Ikut Pergi: Dari Hoegeng hingga Listyo Sigit
Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso dan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dua sosok Kapolri beda era dan beda cara pandang (Foto Kolase: istimewa)

Yang menarik justru bagaimana keduanya memperlihatkan bahwa akhir sebuah jabatan bukan selalu akhir dari perjalanan. Ada orang yang memilih pulang dari panggung kekuasaan dengan membawa prinsipnya. Ada pula yang melanjutkan perjalanan ke panggung pengabdian yang berbeda.

Pada saat meninggalkan kursi Kapolri, Listyo Sigit juga menyampaikan pesan kepada Komjen Suyudi Ario Seto yang akan menggantikannya. Ia berharap program-program Polri dapat dilanjutkan dan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi perhatian.

"Harapannya tentunya terus melanjutkan program agar polri selalu bisa memberikan pelayanan yang terbaik," kata Sigit.

Pesannya kemudian dipadatkan dalam tiga kata yang sederhana: "Terus melayani masyarakat," ujarnya.

Barangkali di situlah titik temu dua kisah yang terpaut lebih dari setengah abad itu. Hoegeng berbicara tentang pengabdian dengan caranya sendiri. Listyo Sigit menyampaikannya kepada penerus melalui pesan yang singkat. Tetapi keduanya sama-sama menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari makna pengabdian.

Pada akhirnya, kursi Kapolri hanyalah sebuah jabatan yang memiliki masa. Seragam, fasilitas, kewenangan dan ruang kerja juga memiliki batas waktu. Yang kemudian tinggal adalah apa yang dilakukan seseorang ketika memiliki jabatan dan bagaimana ia bersikap ketika jabatan itu harus ditinggalkan.

Hoegeng meninggalkan sebuah cerita tentang prinsip yang tetap dipegang bahkan ketika pintu kekuasaan tertutup. Listyo Sigit meninggalkan pesan agar pelayanan kepada masyarakat terus berjalan melalui kepemimpinan berikutnya.

Mungkin karena itu, sejarah kepolisian tidak hanya ditulis melalui pergantian nama di pucuk pimpinan. Ia juga tumbuh dari cerita-cerita kecil tentang pilihan manusia di balik jabatan: kapan harus menerima, kapan harus menolak, dan yang paling penting, untuk siapa pengabdian itu diberikan.

Sebab pada akhirnya, jabatan memiliki tanggal mulai dan tanggal berakhir. Tetapi bagi seorang yang memaknai pengabdian sebagai tanggung jawab, pekerjaan untuk melayani manusia tidak pernah benar-benar mengenal kata selesai.

Editor: Dionisius Umbu Ana Lodu

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut