Tangis di Balik Seleksi Jamnas Pramuka Sumba Timur: Rambu Anggrid dan Asa yang Patah di Tengah Jalan
WAINGAPU, iNewsSumba.id — Sore itu tidak ada angin berhembus sepoi namun tetap terasa hangatnya kala Agustina Ana Wulang mendatangi kediaman wartawan untuk menyatakan gundah dan lara hati. Bukan untuknya namun untuk asa Rambu Anggrid anaknya yang patah di tengah jalan.
Yaa, Rambu Anggrid T. Ana Hammu. Siswi SMP Negeri 1 Waingapu itu sebelumnya melangkah mantap dalam seleksi calon peserta Jambore Nasional (Jamnas). Ia bukan peserta biasa, oleh ibu dan pembinanya disebutkan masuk dalam lima besar.
Namun kini, semua itu tinggal cerita yang sulit dijelaskan.
Agustina Ana Wulang, mengisahkan perjalanan itu dengan suara bergetar. Matanya sembab, seperti menyimpan tangis yang belum benar-benar selesai.
“Dia itu sangat cinta Pramuka. Tidak pernah dipaksa. Dari dirinya sendiri,” katanya pelan.
Setiap pulang sekolah, kata Agustina, Rambu Anggrid hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Seragam sekolah diganti cepat, lalu ia bergegas mengikuti kegiatan Pramuka.
“Kadang saya bilang istirahat dulu, tapi dia tidak mau. Dia bilang takut ketinggalan latihan,” ujarnya.
Semangat itu membawa hasil. Dalam seleksi awal, namanya masuk lima besar. Sebuah pencapaian yang membuat keluarga kecil itu dipenuhi rasa bangga.
“Waktu itu kami sangat senang. Kami pikir, ini jalannya dia,” kata Agustina.
Namun harapan itu mulai goyah ketika tahapan seleksi kesehatan dilakukan. Dalam kondisi haid, Rambu Anggrid dinyatakan memiliki kadar hemoglobin (HB) rendah.
Hasil itu langsung berdampak fatal. Namanya dicoret. “Anak kami langsung menangis. Dia tidak mengerti kenapa bisa seperti itu,” kata Agustina.
Tangis itu, menurutnya, bukan hanya karena gagal. Tetapi karena ia merasa sudah berusaha sekuat tenaga.
“Dia bilang, ‘Saya sudah latihan, saya sudah ikut semua, kenapa saya tidak bisa?’ Itu yang membuat kami sedih,” ujarnya.
Beberapa waktu kemudian, secercah harapan kembali muncul. Rambu Anggrid disebut masih bisa ikut Training Center (TC) sebagai peserta cadangan.
Bahkan disebut ada waktu untuk memperbaiki kondisi kesehatan hingga bulan Juli.
“Dia mulai semangat lagi. Dia bilang mau usaha supaya HB-nya naik,” kata Agustina.
Namun harapan itu ternyata hanya singgah sebentar.
Sehari sebelum TC dimulai, undangan dibagikan kepada peserta lain. Rambu Anggrid tidak menerima apa pun.
“Teman-temannya dapat undangan. Dia tunggu terus, tapi tidak ada,” ujar Agustina.
Hari itu, tangis kembali pecah. Lebih pilu dan terasa lebih dalam.
Keluarga kemudian berinisiatif melakukan tes kesehatan ulang. Hasilnya menunjukkan tidak ada penyakit serius.
“Kami cek ulang. Tidak ada penyakit penyerta seperti yang dibilang,” tegasnya.
Namun hasil tersebut tidak mengubah keadaan. Rambu Anggrid tetap tidak dipanggil.
Di titik ini, Agustina mulai mempertanyakan keadilan proses seleksi. Ia tidak menyebut nama, tidak pula menunjuk pihak tertentu. Tetapi ada kegelisahan yang sulit disembunyikan.
“Kalau karena kami orang kecil, lalu anak kami dikorbankan… kami mau bagaimana?” katanya lirih.
Yang paling berat, menurutnya, adalah menjawab pertanyaan anaknya setiap hari.
“Dia selalu tanya, ‘Mama, bagaimana nasib saya?’ Saya tidak tahu harus jawab apa,” katanya.
Di Waingapu, kisah ini bukan mustahil akan terus bergulir dan tidak lagi jadi cerita dalam lingkup keluarga Rambu Angrid semata. Karena bisa memicu percakapan dan diskusi publik, tentang harapan, tentang proses, dan tentang keadilan yang masih sulit diraih.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu