Ritual Pasola Wanokaka Ricuh, Lemparan Batu Diduga Picu Kericuhan dan Kepanikan di Arena Kamaradena
WAIKABUBAK, iNewsSumba.id-Ritual adat Pasola yang digelar di Lapangan Kamaradena, Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat, Senin (9/3/2026) pagi berujung ricuh. Tradisi perang adat berkuda yang awalnya berlangsung meriah itu terpaksa dihentikan setelah lemparan batu memicu kepanikan di tengah arena.
Sejak pagi, puluhan ksatria dari dua kubu memasuki arena Pasola dengan kuda berhias kain adat. Mereka saling membidik lawan menggunakan lembing tumpul sambil memacu kuda dengan kecepatan tinggi. Penonton yang memadati lapangan bersorak setiap kali lembing melesat dari tangan para penunggang kuda.
Ritual yang menjadi bagian dari tradisi tahunan masyarakat Sumba itu awalnya berlangsung tertib. Namun situasi berubah sekitar pukul 10.00 Wita ketika batu diduga dilempar dari salah satu kelompok penonton ke arah arena.
Lemparan tersebut memicu kemarahan dan aksi balasan dari sejumlah penonton lain. Dalam waktu singkat, suasana di sekitar arena Pasola berubah kacau.
Penonton berlarian menghindari lemparan batu dan kayu yang beterbangan. Beberapa kuda yang sebelumnya ditunggangi peserta terlihat berlari tanpa kendali, membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
“Saat itu suasananya tiba-tiba kacau. Batu mulai beterbangan dari arah penonton. Kami semua langsung lari menyelamatkan diri karena kuda juga mulai berlari tidak terkendali,” ujar Haryan Kabita, salah satu penonton yang berada di lokasi.
Tokoh adat Wanukaka bersama aparat keamanan gabungan dari Polres Sumba Barat dan TNI kemudian turun langsung ke arena untuk menenangkan massa. Upaya persuasif dilakukan agar kericuhan tidak meluas.

Namun situasi yang semakin tegang memaksa aparat menggunakan water canon, gas air mata, serta melepaskan tembakan peringatan ke udara guna membubarkan massa.
Setelah hampir satu jam upaya pengendalian dilakukan, situasi akhirnya berangsur kondusif. Penonton, peserta Pasola, dan tamu undangan kemudian membubarkan diri.
Ritual Pasola di Lapangan Kamaradena, Kecamatan Wanokaka, akhirnya tidak dilanjutkan demi menjaga keamanan.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu