Jembatan Darurat di Wewewa Timur Selesai, Anak-Anak Kini Aman Berangkat ke Sekolah
TAMBOLAKA, iNewsSumba.id-Suasana haru tak bisa disembunyikan ketika sebuah jembatan darurat akhirnya berdiri kokoh di pelosok Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Bentangan kayu dan rangka sederhana itu menghubungkan dua desa di Kecamatan Wewewa Timur yang selama bertahun-tahun terisolasi saat musim hujan tiba.
Jembatan tersebut menghubungkan Desa Kodiwone dan Desa Padaeweta. Inilah akses terdekat warga menuju sekolah, kebun, pasar hingga layanan kesehatan. Namun selama ini, setiap hujan turun, arus sungai berubah menjadi ancaman dan taruhan nyawa anak-anak saat ke sekolah.
Anak-anak sekolah menjadi kelompok paling rentan. Mereka kerap berdiri di tepi sungai, menunggu air surut. Tak jarang, orang tua memilih melarang anaknya berangkat sekolah demi keselamatan.
“Kalau hujan besar, kami tidak berani lewat. Anak-anak tunggu sampai air turun, kadang sampai siang,” ujar Malo Bani, tokoh masyarakat setempat.
Sebelumnya memang pernah ada jembatan di titik tersebut. Namun hanya berupa susunan kayu seadanya. Posisinya rendah, rapuh, dan mudah hanyut diterjang banjir.
Akibatnya, aktivitas warga lumpuh setiap musim hujan. Petani kesulitan membawa hasil kebun. Warga yang sakit harus menunggu air surut untuk menuju fasilitas kesehatan.
Melihat kondisi itu, personel Batalyon C Pelopor Korps Brimob Polda NTT berinisiatif membangun jembatan darurat bersama masyarakat. Tak ada proyek besar, tak ada alat berat, yang ada hanyalah tekad dan gotong royong.
Kayu milik warga ditebang dan dipikul bersama. Fondasi disiapkan dengan peralatan sederhana. Hari demi hari, seragam cokelat loreng bercampur dengan pakaian kerja warga tanpa sekat.
Setiap papan yang terpasang menjadi simbol kebersamaan. Keringat yang jatuh di atas tanah basah menjadi saksi bahwa harapan bisa dibangun dari niat baik.
Kini, anak-anak tak lagi dibayangi arus deras setiap hendak berangkat sekolah. Warga pun bisa melintas dengan lebih aman.
“Ini bukan hanya jembatan kayu. Ini jembatan masa depan anak-anak kami,” kata Malo Bani, matanya berkaca-kaca.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu