get app
inews
Aa Text
Read Next : Kasus Eks Kapolres Ngada: Berkas Masuk Lagi ke Kejati NTT, Penanganan Janji Transparan!

Surat Terakhir YBR: Ketika Kemiskinan dan Beban Hidup Menyentuh Nurani Anak Belia

Kamis, 05 Februari 2026 | 19:31 WIB
header img
Lokasi dan kediaman bocah YBR yang akhiri hidup dnegan cara tragis di Desa Nenawea, Kabupaten Ngada, NTT-Foto Kolase: istimewa

Disclaimer: Informasi ini tidak dimaksudkan untuk mendorong tindakan serupa. Jika Anda mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional, psikolog atau psikiater.*

BAJAWA, iNewsSumba.idDesa Nenawea, Kabupaten Ngada, NTT masih diselimuti duka mendalam. YBR, bocah 10 tahun, ditemukan meninggal dunia, meninggalkan pertanyaan besar tentang bagaimana tekanan hidup dapat merasuk hingga ke dunia anak-anak.

Peristiwa ini menjadi sorotan bukan hanya karena usia korban yang masih sangat belia, tetapi juga karena sepucuk surat perpisahan sederhana namun punya makna mendalam,  yang ia tinggalkan untuk sang ibu. Surat itu ditulis dengan bahasa daerah, singkat, dan penuh permohonan agar ibunya tidak menangis.

“Mae woe Rita ne’e gae ngao ee,” tulis YBS, kalimat yang jika diterjemahkan berarti permintaan agar sang ibu tidak bersedih dan tidak merindukannya. Kalimat itu terasa ganjil keluar dari pikiran seorang anak kelas sekolah dasar.

YBS ditemukan di dekat pondok tempat ia tinggal bersama neneknya Kamis (29/1/2026). Warga yang menemukan jasad korban segera melapor ke polisi. Aparat dari Polres Ngada langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, mengatakan kasus ini masih didalami. “Kami mengamankan surat yang ditemukan di sekitar lokasi dan meminta keterangan sejumlah saksi,” ujarnya.

Dari keterangan ibu korban, terungkap bahwa YBS sempat menginap di rumahnya sehari sebelum kejadian. Pagi harinya, anak itu kembali ke rumah neneknya. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang terlihat saat perpisahan.

Namun pengakuan sang ibu membuka sisi lain dari tragedi ini. Ia menyebut sedang mengalami kesulitan ekonomi dan belum mampu memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. “Saya sudah jujur bilang ke dia, belum bisa beli buku dan pena,” tuturnya lirih kepada penyidik.

Kondisi ekonomi yang sulit itu diduga menjadi salah satu tekanan psikologis bagi YBS. Dalam usia yang sangat muda, ia mungkin merasa menjadi beban, perasaan yang seharusnya tidak pernah dialami seorang anak.

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat, bahwa anak-anak juga merasakan tekanan hidup, meski sering kali mereka memilih diam.

Surat YBS kini menjadi simbol dari suara anak-anak yang jarang terdengar. Suara yang tidak lantang, namun menyimpan kegelisahan mendalam.

Desa Nenawea berduka, dan dari duka itu muncul pertanyaan besar: sudahkah kita cukup peka mendengar beban yang dipikul anak-anak di sekitar kita?

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut