Surat Terakhir YBR: Ketika Kemiskinan dan Beban Hidup Menyentuh Nurani Anak Belia
Dari keterangan ibu korban, terungkap bahwa YBS sempat menginap di rumahnya sehari sebelum kejadian. Pagi harinya, anak itu kembali ke rumah neneknya. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang terlihat saat perpisahan.
Namun pengakuan sang ibu membuka sisi lain dari tragedi ini. Ia menyebut sedang mengalami kesulitan ekonomi dan belum mampu memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. “Saya sudah jujur bilang ke dia, belum bisa beli buku dan pena,” tuturnya lirih kepada penyidik.
Kondisi ekonomi yang sulit itu diduga menjadi salah satu tekanan psikologis bagi YBS. Dalam usia yang sangat muda, ia mungkin merasa menjadi beban, perasaan yang seharusnya tidak pernah dialami seorang anak.
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat, bahwa anak-anak juga merasakan tekanan hidup, meski sering kali mereka memilih diam.
Surat YBS kini menjadi simbol dari suara anak-anak yang jarang terdengar. Suara yang tidak lantang, namun menyimpan kegelisahan mendalam.
Desa Nenawea berduka, dan dari duka itu muncul pertanyaan besar: sudahkah kita cukup peka mendengar beban yang dipikul anak-anak di sekitar kita?
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu