Drama di Udara: Kronologi Lengkap Pramugari Gadungan Batik Air Terciduk dari Palembang ke Jakarta
Hasil pemeriksaan lanjutan mengungkap bahwa Nisya membeli seragam dan atribut melalui toko daring. Motivasinya bukan kriminal, tetapi karena ambisinya yang besar menjadi pramugari. Ia pernah mengikuti pendidikan pramugari dan mengeluarkan dana besar, namun gagal lolos.
Dalam pengakuannya, Nisya mengaku tertekan karena merasa gagal membanggakan keluarga. Ia takut dianggap tidak berhasil dan pada akhirnya memilih jalan yang keliru.
“Aku hanya ingin dilihat sebagai seseorang yang berhasil. Bukannya ingin menipu, aku hanya ingin membuktikan,” kata Nisya lirih.
Meski aksinya viral dan sempat membuat geger jagat maya, Batik Air mengambil pendekatan kemanusiaan. Tidak ada unsur kriminal, tidak ada korban, dan tidak ada ancaman keamanan serius dalam penerbangan.
“Atas pertimbangan kemanusiaan dan edukatif, kami tidak melanjutkan ke jalur hukum. Yang bersangkutan cukup diberi pembinaan,” ujar perwakilan Batik Air.
Namun demikian, maskapai menegaskan bahwa standar keamanan penerbangan tidak bisa ditawar. Penggunaan atribut resmi maskapai tanpa izin tetap merupakan pelanggaran serius.
Insiden ini menjadi pelajaran bagi publik, terutama anak muda yang terjebak tekanan pencapaian. Dunia penerbangan mengingatkan bahwa identitas profesional bukan sekadar seragam, tetapi tanggung jawab besar yang tak bisa dipalsukan.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu