Waduh, Seorang Calon Pendeta di Alor Cabuli 6 Orang Anak Sekolah Minggu

Danny Manu
.
Minggu, 04 September 2022 | 13:27 WIB
Ilustrasi pemerkosaan.(Foto:Dok iNews.id)

KALABAHI, iNewsSumba.id – Sebanyak 6 orang anak menjadi korban pencabulan dan pemaksaaan persetubuhan oleh SAS (35). Terduga pelaku ternyata merupakan oknum Vikaris (Calon Pendeta) yang menjalankan tugasnya pada Gereja GMIT Siloam Nailang di Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut (ATL), Kabupaten Alor.

Kasat Reskrim Polres Alor, Iptu Jems Mbau menyatakan, pelaku dalam pengejaran petugas karena kini telah berada di Kupang. Pengejaran pelaku dipimpin langsung olehnya.

Kepada iNewsAlor.id, Mbau lebih lanjut menjelaskan, terungkapnya kasus itu bermula dari adanya pengaduan dan laporan warga Bukapiting, Kecamatan ATL. Dikatakannya, warga menyebut ada 6 anak yang diduga disetubuhi oleh SAS yang jika merujuk pada identitas kependudukan beralamatkan di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Dalam kesempatan itu Mbau memaparkan ke - 6 anak yang manejadi korban itu masing – masing 2 pelajar SMA berinisial HBM (15) dan TMK. Sementara 4 korban lainnya masih duduk di bangku SMP, yakni NALK (15), EIL (14), SM (14) dan SOM (14).

Kejadian asusila ini disebutkan Mbau, terjadi pada akhir Mei 2021 sampai dengan akhir Maret tahun 2022 di wilayah kompleks Gereja Jemaat GMIT Siloam Nailang yang berada di wilayah Nailang, Desa Waisika, Kecamatan  ATL.

Kronologis kejadiannya, urai Mantan Kasat Reskrim Polres Rote Ndao ini, ketika pelaku bertugas di Gereja GMIT Siloam Nailang sebagai Vikaris, sekitar awal 2021 hingga sekitar awal Mei 2022. Pelaku kemudian mengenal korbannya karena merupakan anak sekolah Minggu di Gereja tempatnya bertugas tersebut.

Selanjutnya, papar Mbau lebih lanjut, pelaku mengajak para korban untuk datang ke kompleks gereja, dan diduga melakukan pelecehan dengan para korban secara bergantian dan berulang kali pada waktu dan tempat yang berbeda-beda.

Perbuatan yang tidak terduga dan menyesakan hati keluarga korban itu akhirnya terkuak dan kemudian dilaporkan kepada polisi. Namun karena telah selesai melaksanakan tugasnya di Alor, pelaku pindah ke Kupang. Kasus ini juga telah diketahui pimpinan Sinode.

Kasus ini masih akan terus dikembangkan dan kata Mbau tidak menutup kemungkinan akan adanya korban lain.

Kepada penyidik para korban mengaku almai perbuatan pencabulan dan pelecehan. Korban mengaku dipeluk pelaku di bagian perut, dan mendapat chatting yang disertai dengan kiriman foto telanjang. Dan adapula yang disetubuhi paksa pelaku.

" Terlapor melakukan tipu muslihat dan rangkaian kebohongan terhadap para korban sebelum melakukan persetubuhan tersebut,  dan juga ada dugaan terlapor memvideokan saat melakukan persetubuhan terhadap para korban,  sehingga mengancam untuk menyebarkan jika para korban tidak bersetubuh dgan terlapor," papar Mbau.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Bagikan Artikel Ini