JAKARTA, iNewsSumba.id - Ada masa ketika seorang perwira polisi harus meninggalkan seragam kebesarannya. Ada pula saat ketika seorang Kapolri harus menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada penerusnya. Pada titik itu, jabatan berhenti menjadi milik seseorang, tetapi pengabdian semestinya tidak ikut berhenti.
Kisah tentang Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso dan Jenderal Listyo Sigit Prabowo berada pada zaman yang berbeda. Hoegeng mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971, sementara Listyo Sigit meninggalkan kursi Kapolri pada 2026. Namun, keduanya memperlihatkan satu sisi yang sama: bagaimana seorang pejabat memandang pengabdian ketika kekuasaan dan jabatan berada di ujung perjalanan.
Hoegeng pernah ditawari menjadi duta besar Indonesia untuk Swedia setelah tidak lagi menjabat Kapolri. Ketika tawaran itu ditolak, pemerintah kembali menawarkan posisi duta besar untuk Kerajaan Belgia, Belanda dan Luksemburg. Latar belakang istrinya yang merupakan keturunan Belanda serta kemampuan Hoegeng berbahasa Belanda menjadi salah satu pertimbangan tawaran tersebut.
Tetapi Hoegeng tetap memilih menolak. Baginya, pengabdian kepada Indonesia belum selesai. Ketika kemudian bertemu Presiden ke-2 Soeharto di Jalan Cendana dan kembali ditawari menjadi duta besar, Hoegeng memberikan jawaban yang sederhana, tetapi tegas.
"Tugas apa pun saya akan terima asal jangan jadi dubes, Pak," jawab Hoegeng, seperti dikutip dari buku Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan.
Jawaban itu kemudian dibalas Soeharto dengan kalimat yang tidak kalah tegas. "Di Indonesia tidak ada lagi lowongan buat Hoegeng," kata Soeharto.
Hoegeng akhirnya meninggalkan jabatan Kapolri. Ia bahkan mengembalikan seluruh fasilitas kedinasannya, termasuk mobil dinas. Di titik tersebut, yang tersisa bukan lagi fasilitas maupun kewenangan, melainkan pilihan pribadi tentang bagaimana seorang mantan pejabat melihat arti pengabdiannya.
Ada satu adegan lain yang membuat kisah Hoegeng terasa lebih manusiawi. Dalam sebuah makan malam bersama keluarga, anak-anaknya sempat membujuk agar ia menerima tawaran menjadi duta besar. Bagi mereka, kesempatan itu berarti bisa tinggal dan merasakan kehidupan di luar negeri.
Namun Hoegeng memiliki cara pandang berbeda. Menurut dia, jabatan duta besar seharusnya diisi seorang diplomat. Baginya, posisi tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari kenyataan masyarakat di tanah air yang masih menghadapi kesulitan hidup.
"God verdome! Kamu tahu. Kalau Papimu jadi dubes, kerjanya hanya seremonial seperti bertemu dengan perwakilan pemerintah negara asil sambil minum atau makan. Padahal di negara kita ini banyak rakyat yang tengah kesulitan hidup dan makan dan minum saja sulit," katanya.
Anak-anaknya pun terdiam. Bukan semata karena kemarahan sang ayah, tetapi karena dari meja makan itu mereka mungkin baru memahami bahwa bagi Hoegeng, jabatan bukan sekadar kesempatan untuk menikmati fasilitas atau kedudukan. Ada ukuran pengabdian yang lebih besar daripada itu.
Puluhan tahun kemudian, suasana berbeda terjadi ketika Listyo Sigit Prabowo mengakhiri masa tugasnya sebagai Kapolri. Tidak ada cerita tentang penolakan jabatan. Sebaliknya, Listyo Sigit menerima amanah baru sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (1/10/2026). Jabatan dimaksud dipandang sebagai amanah dan kehormatan.
Sebelum pelantikan, Sigit menyebut tawaran tersebut sebagai sebuah kehormatan. "Itu kan kehormatan buat kita untuk memberikan pengabdian bagi bangsa," ucapnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, jika diletakkan berdampingan dengan kisah Hoegeng, ada sesuatu yang menarik: jabatan boleh berganti, tempat pengabdian boleh berubah, tetapi gagasan mengenai pengabdian tetap menemukan ruangnya.
Dari Hoegeng, pengabdian terlihat dalam keputusan untuk tidak mengejar posisi setelah meninggalkan kursi Kapolri. Dari Listyo Sigit, pengabdian terlihat dalam kesediaan melanjutkan tugas melalui ruang yang berbeda. Dua pilihan tersebut lahir dalam situasi dan zaman yang berbeda, sehingga tidak perlu dibandingkan sebagai siapa yang lebih benar atau lebih baik.
Yang menarik justru bagaimana keduanya memperlihatkan bahwa akhir sebuah jabatan bukan selalu akhir dari perjalanan. Ada orang yang memilih pulang dari panggung kekuasaan dengan membawa prinsipnya. Ada pula yang melanjutkan perjalanan ke panggung pengabdian yang berbeda.
Pada saat meninggalkan kursi Kapolri, Listyo Sigit juga menyampaikan pesan kepada Komjen Suyudi Ario Seto yang akan menggantikannya. Ia berharap program-program Polri dapat dilanjutkan dan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi perhatian.
"Harapannya tentunya terus melanjutkan program agar polri selalu bisa memberikan pelayanan yang terbaik," kata Sigit.
Pesannya kemudian dipadatkan dalam tiga kata yang sederhana: "Terus melayani masyarakat," ujarnya.
Barangkali di situlah titik temu dua kisah yang terpaut lebih dari setengah abad itu. Hoegeng berbicara tentang pengabdian dengan caranya sendiri. Listyo Sigit menyampaikannya kepada penerus melalui pesan yang singkat. Tetapi keduanya sama-sama menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari makna pengabdian.
Pada akhirnya, kursi Kapolri hanyalah sebuah jabatan yang memiliki masa. Seragam, fasilitas, kewenangan dan ruang kerja juga memiliki batas waktu. Yang kemudian tinggal adalah apa yang dilakukan seseorang ketika memiliki jabatan dan bagaimana ia bersikap ketika jabatan itu harus ditinggalkan.
Hoegeng meninggalkan sebuah cerita tentang prinsip yang tetap dipegang bahkan ketika pintu kekuasaan tertutup. Listyo Sigit meninggalkan pesan agar pelayanan kepada masyarakat terus berjalan melalui kepemimpinan berikutnya.
Mungkin karena itu, sejarah kepolisian tidak hanya ditulis melalui pergantian nama di pucuk pimpinan. Ia juga tumbuh dari cerita-cerita kecil tentang pilihan manusia di balik jabatan: kapan harus menerima, kapan harus menolak, dan yang paling penting, untuk siapa pengabdian itu diberikan.
Sebab pada akhirnya, jabatan memiliki tanggal mulai dan tanggal berakhir. Tetapi bagi seorang yang memaknai pengabdian sebagai tanggung jawab, pekerjaan untuk melayani manusia tidak pernah benar-benar mengenal kata selesai.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
