WAINGAPU, iNewsSumba.id – Kemeriahan Pacuan Kuda Humba Cup IV 2026 di Sumba Timur menghadirkan pemandangan yang berbeda. Di balik persaingan ratusan kuda yang berlaga, terselip pesan kemanusiaan untuk masyarakat Flores yang sedang menghadapi dampak bencana gempa bumi.
Ajang yang digelar di Arena Pacuan Kuda Rihi Eti Prailiu, Selasa (18/8/2026), menjadi momentum untuk menggalang solidaritas masyarakat Sumba terhadap para korban bencana.
Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, secara khusus mengajak seluruh tamu undangan, peserta, dan penonton untuk menunjukkan empati kepada masyarakat Flores.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa semangat kebersamaan yang selama ini terbangun melalui budaya pacuan kuda harus diperluas menjadi gerakan kepedulian terhadap sesama.
Menurut Yonathan Hani, masyarakat Sumba dan Flores merupakan bagian dari keluarga besar di Nusa Tenggara Timur yang harus saling menguatkan ketika menghadapi musibah.
“Jadi ini bukan sekadar olahraga, ada budaya hidup, mempersatukan bukan memecah belah,” ujarnya.
Pesan kemanusiaan itu kemudian diwujudkan melalui berbagai aksi nyata yang digagas panitia Humba Cup IV. Salah satunya adalah pengumpulan donasi untuk membantu korban gempa di Flores.
Ketua Panitia Humba Cup IV, Umbu Tamu Ridi Djawamara, mengatakan setiap kuda yang mengikuti perlombaan dikenakan iuran sebesar Rp50.000. Peserta juga diberikan kesempatan untuk menyumbang lebih sesuai kemampuan masing-masing.
Menariknya, dana yang terkumpul tidak sepenuhnya digunakan untuk penyelenggaraan perlombaan. Sebanyak 30 persen dialokasikan untuk hadiah juara, sedangkan 70 persen diperuntukkan bagi korban gempa di Flores.
Panitia juga menyediakan kotak donasi di berbagai titik agar masyarakat yang datang ke arena dapat berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan tersebut.
“Tidak hanya itu, kami juga sediakan kotak donasi bagi para penonton atau siapa pun yang datang bisa memberikan donasi lewat kotak yang sudah disediakan,” kata Umbu Tamu.
Melalui Humba Cup IV, masyarakat Sumba menunjukkan bahwa olahraga dan budaya dapat menjadi sarana untuk membangun solidaritas sosial.
Derap kuda yang menggema di Rihi Eti Prailiu pun tidak hanya menjadi simbol perlombaan, tetapi juga menjadi tanda bahwa kepedulian terhadap sesama masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
