KUPANG, iNewsSumba.id – Sabtu (10/1/2026) itu, langit Oepura, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) terasa lebih muram dari biasanya. Bukan karena cuaca, tetapi karena kabar duka yang datang dari Papua kembali menyimpan cerita luka, dan Kupang menjadi saksi air mata keluarga prajurit yang gugur menjaga negara.
Peti jenazah Praka Satria Taopan tiba dengan upacara militer. Bendera Merah Putih yang membungkusnya bukan sekadar kain, tetapi simbol penghormatan negara atas pengabdian seorang anak bangsa yang tak sempat pulang membawa senyum.
Di rumah duka, kesedihan tak terbendung. Ibunda Satria menangis sepanjang peti diturunkan. Sang ayah berusaha tegar, namun suaranya pecah saat menceritakan keteguhan hati anaknya mengejar mimpi menjadi prajurit. “Dia berjuang dari nol, gagal berulang-ulang, tapi tidak pernah menyerah. Kami sangat bangga padanya,” ucapnya.
Kisah perjuangan Satria menuju TNI adalah potret banyak anak muda NTT yang bertarung dengan keterbatasan, tapi kaya keberanian. Kini, keberanian itu harus dibayar dengan kepergian yang tak akan pernah kembali.
Kapten Infanteri Despa menjelaskan secara terbuka kronologi gugurnya Satria. Ia bertugas mengawal pengiriman logistik prajurit ketika helikopter diserang KKB. “Almarhum tertembak dan meninggal dunia dalam tugas negara,” katanya.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
