Telepon Terakhir dari Balik Kobara Api: Kisah Suami yang Kehilangan Jejak Istrinya di Wang Fuk Court
HONG KONG, iNewsSumba.id — Di balik kobaran api yang melumat tujuh menara Wang Fuk Court di Distrik Tai Po, Rabu (26/11/2025), ada sebuah percakapan terakhir yang terus terngiang di kepala Lawrence Lee. Di tengah kepanikan, suara istrinya adalah fragmen terakhir sebelum gedung itu menjadi neraka vertikal yang menelan nyawa ratusan penghuni.
Kebakaran besar itu telah merenggut sedikitnya 128 jiwa dan membuat 200 orang lain masih hilang. Ribuan penghuni kompleks yang telah berusia lebih dari empat dekade itu menjadikan telepon sebagai jembatan terakhir dengan dunia luar, termasuk keluarga Lee.
Lawrence mengingat jelas bagaimana semuanya terjadi begitu cepat. “Saya menyuruhnya lari, lari secepat mungkin,” katanya, dengan suara yang masih bergetar saat diwawancarai. Ia berharap sang istri bisa mencari celah sebelum asap memenuhi seluruh lantai.
Namun kenyataan di dalam gedung jauh lebih kelam. Begitu sang istri membuka pintu, koridor dan tangga sudah berubah menjadi labirin gelap bercampur asap pekat. Tak ada arah yang bisa dituju. “Dia bilang tidak bisa melihat apa pun. Jadi dia kembali ke apartemen,” ungkap Lee.
Itulah kata-kata terakhir yang ia dengar sebelum sambungan telepon terputus. Sejak saat itu, ponselnya hanya menampilkan satu hal: nomor sang istri yang tak lagi aktif. "Saya sudah mencoba berkali-kali. Tidak ada nada sambung," ujarnya lirih.
Lawrence kini hanya bisa menunggu di pusat informasi sementara. Tiap kali petugas pemadam mengabarkan temuan baru, wajahnya menegang, seolah bersiap menerima apa pun yang akan diumumkan.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
