MBG Tak Libur di Wilayah 3T, Pemerintah Tambah Hari Demi Tekan Stunting Anak Sekolah
JAKARTA, iNewsSumba.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian dipertegas sebagai salah satu instrumen negara dalam melawan stunting. Dalam Rapat Koordinasi Tingkat Atas (Rakortas) virtual yang dipimpin Prabowo Subianto, pemerintah memastikan intervensi gizi tidak berhenti di hari sekolah biasa.
Kebijakan terbaru membuka ruang perlakuan khusus bagi daerah tertinggal. Anak-anak di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) kini tetap mendapatkan MBG hingga hari Sabtu.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah melihat ketimpangan akses gizi masih menjadi persoalan serius, terutama di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan kebijakan ini sebagai strategi nyata untuk menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan.
“Pemberian MBG di hari Sabtu untuk daerah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategis memastikan anak-anak menerima gizi yang cukup setiap hari,” ujar Dadan.
Menurutnya, pola intervensi tidak bisa disamaratakan. Ada wilayah yang membutuhkan perhatian lebih karena kondisi geografis dan keterbatasan akses pangan bergizi.
Karena itu, pemerintah menekankan pentingnya pendekatan berbasis data. Penentuan wilayah prioritas dilakukan dengan mengacu pada hasil Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Data tersebut menjadi fondasi dalam memetakan daerah dengan tingkat kerentanan gizi tertinggi, khususnya di kawasan Indonesia Timur dan Papua.
“Tim kami akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kesehatan setempat untuk memastikan data akurat, sehingga MBG tepat sasaran,” katanya.
Pendataan meliputi jumlah sekolah, jumlah siswa, hingga tingkat prevalensi stunting di setiap wilayah.
Dadan menegaskan, program ini tidak sekadar soal makan, tetapi menyangkut masa depan generasi muda Indonesia.
“Integritas data sangat penting, karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal,” tegasnya.
Dengan perluasan hari layanan ini, pemerintah berharap tidak ada lagi celah kekurangan gizi, terutama di wilayah paling rentan.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu