Data tersebut memperlihatkan bahwa NTT menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan perkembangan musim kemarau. Dengan karakteristik geografis kepulauan dan ketergantungan sejumlah masyarakat terhadap sumber air lokal, hujan yang tak kunjung turun berpotensi menambah tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski demikian, angka 148 hari merupakan catatan hari tanpa hujan yang dilaporkan dalam data BMKG, bukan berarti seluruh wilayah NTT mengalami kondisi yang sama. Intensitas kekeringan dapat berbeda antarlokasi, bergantung pada hasil pengamatan stasiun atau pos hujan masing-masing.
Di atas NTT, DI Yogyakarta tercatat sebagai daerah dengan periode tanpa hujan terpanjang, yakni 161 hari. Jawa Tengah berada di urutan kedua dengan 160 hari, disusul Jawa Timur yang mencapai 159 hari.
Setelah NTT, wilayah lain yang juga mencatat periode tanpa hujan panjang adalah Nusa Tenggara Barat (NTB) selama 145 hari dan Bali selama 143 hari. Ketiga wilayah di kawasan Nusa Tenggara dan Bali ini sama-sama menghadapi tantangan akibat panjangnya periode musim kering.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama dalam mengantisipasi kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, peternakan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Langkah antisipasi dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan serta hasil pemantauan ketersediaan air di setiap wilayah.
Masyarakat juga perlu menggunakan air secara bijak dan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca serta potensi hujan. Informasi BMKG penting menjadi salah satu rujukan dalam menentukan langkah menghadapi periode kering yang berkepanjangan.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
