Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pendaftaran PCPM Bank Indonesia 2026 Dibuka, Lulusan S1 dan S2 Wajib Daftar Sebelum 14 Agustus
Advertisement . Scroll to see content

El Nino Ancam Pasokan Pangan NTT dan Indonesia Timur, Harga Beras hingga Cabai Jadi Sorotan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:02 WIB
  • author TIm iNews
El Nino Ancam Pasokan Pangan NTT dan Indonesia Timur, Harga Beras hingga Cabai Jadi Sorotan
Ilustrasi AI, El Nino ancam pasokan pangan

JAKARTA, iNewsSumba.id– Ancaman fenomena El Niño menjadi perhatian serius bagi stabilitas pasokan dan harga pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah yang selama ini menghadapi tantangan iklim kering tersebut berpotensi mengalami tekanan tambahan apabila El Niño berlangsung lama dan mengganggu produksi maupun distribusi bahan pangan.

Bank Indonesia (BI) memperingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi memicu gangguan pasokan sejumlah komoditas pangan strategis. Beras menjadi komoditas yang paling rentan terdampak, disusul cabai dan bawang merah.

Peringatan tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI periode Oktober 2026 di Gedung Thamrin, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

“Komoditas yang paling rentan adalah beras, kemudian cabai dan bawang merah,” ucap Ricky.

Bagi NTT, risiko ini perlu mendapat perhatian karena gangguan produksi di daerah pemasok dapat berimbas pada ketersediaan dan harga pangan di pasar lokal. Apabila pasokan berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, tekanan harga berpotensi semakin terasa di tingkat konsumen.

Dampak El Niño tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. Gangguan terhadap pertumbuhan tanaman, kebutuhan air untuk pertanian, serta kelancaran distribusi dapat menjadi rangkaian persoalan yang memengaruhi ketersediaan bahan pangan.

BI menyebut wilayah yang berpotensi menghadapi tekanan pasokan akibat El Niño mencakup Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sumatra. Cakupan tersebut menempatkan NTT dalam wilayah yang perlu mengantisipasi kemungkinan gangguan rantai pasok pangan.

Risiko itu muncul ketika tekanan harga pangan nasional juga menunjukkan peningkatan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada Agustus 2026.

Kelompok harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi 5,03 persen, dengan kontribusi 0,83 poin persentase terhadap inflasi nasional. Angka ini menunjukkan bahwa pergerakan harga pangan menjadi salah satu komponen penting yang perlu dikendalikan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BI mendorong penguatan kerja sama antardaerah, fasilitasi biaya distribusi, operasi pasar, serta gerakan pasar murah. Kebijakan ini diarahkan untuk mempercepat penyaluran pangan dari daerah surplus ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan.

“Tujuannya untuk mempercepat distribusi pangan dari daerah surplus ke daerah yang mengalami defisit pasokan, terutama untuk komoditas beras, cabai, dan bawang merah,” kata Ricky.

Bagi pemerintah daerah di NTT, kewaspadaan terhadap El Niño perlu diikuti pemantauan stok beras, perkembangan harga di pasar, kondisi pertanian, serta kebutuhan air masyarakat. Namun, besarnya dampak di setiap kabupaten masih perlu ditentukan berdasarkan perkembangan cuaca dan data pasokan setempat.

 

Editor: Dionisius Umbu Ana Lodu

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut