get app
inews
Aa Text
Read Next : Duka Mendalam Warga Loura Sumba Barat Daya, Ibu dan Anak Diterkam Buaya

Viral, Peti Jenazah Dipikul Warga Kiritana Seberangi Sungai yang Dihuni Predator

Minggu, 26 April 2026 | 00:16 WIB
header img
Warga Desa Kiritana mengusung peti jenazah sebrangi sungai Kambaniru untuk menuju rumah duka di Dusun Laihiding. Jembatan gantung putus sejak 2021, hingga kini belum diperbaiki (Foto: tangkapan layar/ istimewa)

WAINGAPU, iNewsSumba.id – Duka di Desa Kiritana, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT ini tak hanya soal kehilangan. Ia menjelma menjadi perjuangan melawan arus sungai yang deras, bahkan ancaman predator yang mengintai.

Sebuah video amatir yang viral menampilkan warga bergotong royong memikul peti jenazah, menutupi Sungai Kambaniru yang dalam dan berarus kuat. Tidak ada jembatan, tidak ada alternatif lain. Hanya keberanian dan solidaritas yang menjadi tumpuan.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (24/4/2025) kemarin. Jenazah seorang warga Dusun Laihiding diantar dari Rumah Sakit di Kota Waingapu menggunakan ambulans. Namun perjalanan terhenti di tepi sungai.

Di hadapan mereka, Sungai Kambaniru tampil tanpa kompromi. Ketinggian udara bahkan mencapai leher orang dewasa. Namun warga tetap melangkah, pelan namun pasti, menjaga keseimbangan agar tidak gagal.

“Tidak ada jalan lain. Kami harus lewat sini,” ujar Erens salah seorang warga yang ikut menggotong peti ketika dihubungi paska membagikan video suasana pilu itu, Sabtu (25/4/2025) petang lalu.

Peti jenazah dibalut kain tenun khas Sumba Timur. Tanpa alat bantu, tanpa pengaman, hanya tangan-tangan warga yang saling menguatkan.

Arus sungai yang deras bukan satu-satunya ancaman. Sungai ini dikenal sebagai habitat buaya. Risiko itu nyata, tetapi duka yang harus segera diselesaikan membuat warga tak punya pilihan.

Jembatan gantung yang dulu menjadi penghubung utama, telah ambruk sejak April 2021. Bencana Siklon Seroja merobohkannya, dan hingga kini belum ada perbaikan.

Akibatnya, akses warga terputus. Sungai menjadi satu-satunya jalur yang “lebih mudah”, meski sebenarnya penuh bahaya.

Perjuangan tidak berhenti di satu kali penyeberangan. Untuk mencapai rumah duka, warga harus melintasi sungai yang sama hingga dua kali.

Kepala Desa Kiritana, Jhonson Dena Tola, membenarkan peristiwa tersebut. Ia ikut mengantarkan jenazah dan menyaksikan langsung kondisi itu.

“Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Setidaknya jembatan diperbaiki agar warga tidak lagi membahayakan nyawa,” ujarnya saat ditemui di sisi sungai itu, Sabtu (25/4/2026) petang. Diakuinya, sungai itu dikenal menjadi habitat buaya, yang oleh sebagian warga tak hanya ditakuit juga dikeramatkan.


Kepala Desa Kiritana, Jhonson Dena Tola di sisi Sungai Kambaniru, Sumba Timur, NTT (Foto: Dion. Umbu Ana Lodu/ iNewsSumba.id)

 

Yaa, video itu bukan sekadar potret duka. Ia adalah cermin keterbatasan infrastruktur yang masih membayangi kehidupan masyarakat di pelosok.

Di Sumba Timur, kematian terasa kian pilu kala jenazah untuk tiba di rumah dukapun harus diperjuangkan dengan bertaruh nyawa. Di balik derasnya arus sungai, sejatinya ada harapan yang terus disuarakan, agar akses yang layak bukan lagi sekedar janji omon-omon semata.

Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut