GOWA, iNewsSumba.id — Aksi vigilante atau main hakim sendiri di Kelurahan Cikoro, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Gowa, kembali memantik diskusi publik di daerah. Seorang pria yang diduga pelaku pemerkosaan terhadap gadis difabel tewas setelah diarak, diikat, dan diseret motor oleh ratusan warga.
Peristiwa itu direkam warga dan tersebar luas di media sosial. Video itu menunjukkan bagaimana pelaku, yang sudah tidak berdaya, diperlakukan sebagai objek pelampiasan massa. “Warga sudah lama kesal. Bukan sekali dua kali dia bikin onar,” ujar seorang warga setempat.
Aksi tersebut bukan hanya reaksi spontan atas dugaan pemerkosaan, tetapi akumulasi emosi akibat rangkaian kasus kriminal sebelumnya. Warga menuding pelaku pernah mencuri laptop, melakukan penganiayaan, dan menebar keresahan di kampung.
Saat terdukanya berada di hutan untuk bersembunyi, warga secara kolektif memburunya. Mereka membentuk kelompok pencari, menutup jalan keluar, dan memanggil warga lain untuk ikut mengepung. Begitu tertangkap, pelaku tidak diberikan kesempatan untuk hidup.
Dalam arak-arakan itu, pelaku diikat di batang bambu dan diseret keliling kampung. Saat malam tiba, aksi justru semakin brutal. Lampu motor memantulkan bayangan-bayangan mengerikan dari tubuh pelaku yang sudah penuh luka. Sorak massa terdengar seperti perayaan.
Camat Tompo Bulu menyebut peristiwa ini sebagai letupan kemarahan sosial. “Kita semua tidak mengharapkan kejadian seperti ini. Diduga dari adanya kasus asusila,” ujarnya. Namun ia tidak menyangkal bahwa ketegangan sosial di kampung tersebut sudah lama terpendam.
Kapolres Gowa AKBP Muhammad Aldy Sulaiman mengatakan bahwa semua tindakan warga dalam video itu akan diselidiki. “Kami tidak membenarkan aksi kekerasan. Proses hukum tetap harus ditempuh,” ujarnya. Ia juga membenarkan bahwa pelaku adalah residivis yang baru saja melakukan dua kejahatan dalam satu hari.
Kasus ini menimbulkan perdebatan publik: sebagian menganggap warga bertindak karena frustrasi terhadap sistem hukum, sementara sebagian lain mengecam kekerasan sebagai tindakan biadab yang mencederai nilai kemanusiaan.
Pakar kriminologi menyebut aksi vigilantisme biasanya tumbuh dalam kondisi ketidakpercayaan publik terhadap aparat. Warga merasa lebih cepat mengambil tindakan sendiri daripada menunggu proses hukum yang dianggap lamban.
Kini, polisi memeriksa saksi dan mengumpulkan bukti digital untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam aksi penganiayaan. Kasus ini dipastikan tidak berhenti pada kematian pelaku, tetapi bergerak pada siapa yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan itu.
Editor : Dionisius Umbu Ana Lodu
Artikel Terkait
